Kampusgw.com

Menu

Rahasia Beasiswa Bidik Misi #AkuBidikMisi: Kemenangan Perjuangan Tanpa Batas Untuk Kuliah

Kuliah merupakan impian dari setiap siswa yang akan segara lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi kepada teman-teman yang mempunyai niat untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu universitas impian.

Perkenalkan saya biasanya dipanggil dengan nama Adi. Namun nama lengkap saya M.Adi Renaldi. Alhamdulillah sekarang saya tercatat aktif pada salah satu universitas yang ada di Sumatra Selatan. Salah satu kampus impian di Indonesia dengan stempel akreditasi A dari BANPT.

Perlu teman-teman ketahui, saya sedang menempuh pendidikan kuliah di salah satu jurusan bergengsi yang mempunyai akreditasi A. Sebuah jurusan yang menjadi impian ribuan orang di luar sana. Pencapaian ini tidaklah mudah karena sebelumnya didahului dengan kerja keras.

Kalau teman-teman ingin tahu di jurusan apa saya menempuh pendidikan sekarang? Teman-teman bisa mengikuti cerita saya yang penuh suka cita ini. Saya harap ini mampu memberi motivasi terkhusus adik-adik yang akan melanjutkan pendidikan ke bangku universitas bahwa hasil tidak akan mengkhianati perjuangan. Pada kesempatan ini saya akan berbagi sebuah cerita sederhana saat sebelum dan setelah saya mendapatkan beasiswa Bidik Misi.

 

“Drama” Sebelum Pendaftaran Bidik Misi

Dimulai ketika saya sedang menjalankan pendidikan di bangku Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Palembang kelas 12 IPS I di penghujung semester genap. Tepatnya  saat-saat akhir pendaftaran Bidik Misi di sekolah. Saya dirundung kegelisahan yang mendalam mengenai nasib masa depan saya setelah lulus dari sekolah tersebut. Dikarenakan kurangnya pengetahuan akan beasiswa, saya sempat berfikir untuk tidak melanjutkan kuliah lantaran takut akan membebani orang tua. Pasalnya biaya kuliah katanya mahal belum lagi ongkosnya yang tinggi.

Ketika hati bergejolak dan fikiran gundah atau kata anak muda zaman sekarang galau, namun saya mulai memikirkan untuk tidak takut  mencoba dan berani berjuang mewujudkan niatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Di saat semangat bergejolak di dalam hati saya, tiba-tiba terdengar kabar mengenai Bidik Misi. Masalahnya pendaftaran di sekolah untuk mendapatkan kunci “memasuki  portal” sudah tutup.

Mulai bingung lagi dan sedih sekali harapan untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi tertutup. Tetapi hal itu tak menyurutkan niat dan perjuangan saya untuk terus mengais asa melanjutkan kuliah. Saya terus mencari informasi ke bagian kemahasiswaan MAN 2.  Di saat saya mencari-cari informasi mengenai beasiswa, tanpa sengaja saya melihat daftar siswa/siswi yang diterima sekolah untuk mengikuti seleksi beasiswa Bidik Misi.

Ternyata di dalam kertas pengumuman itu ada  nama saya. Seketika itu saya kaget bukan kepalang melihat ada nama saya. Melihat hal itu, saya mulai bangkit dan semakin yakin bahwa kesempatan itu ada bagi mereka yang berusaha. Ternyata setelah saya telusuri kenapa ada nama saya di situ, saya mendapatkan jawabanya dari wali kelas. Nilai saya masuk ke dalam 3 besar di IPS dan direkomendasikan oleh pihak sekolah untuk mengikuti beasiswa Bidik Misi.

Mendengar saya diikutkan untuk seleksi beasiswa Bidik Misi, saya semakin semangat mengikuti tahapan-tahapan seleksi beasiswa Bidik Misi. Denger-denger cerita dari teman-teman, kalau seleksi beasiswa Bidik Misi ini super panjang dan banyak sekali berkas yang harus dilengkapi. Namun hal itu tak menyurutkan niat dan perjuangan saya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Saat itu saya tidak mempunyai akses internet seleluasa sekarang. Bukan berarti saya sekolah dari zaman 80-an ya. Jadi untuk melengkapi berkas persyaratan beasiswa Bidik Misi yang begitu banyak, saya harus ke warung internet atau anak-anak zaman sekarang bilang Warnet. Saya bolak-balik warnet untuk ngisi data-data yang harus diisi di portal beasiswa Bidik Misi. Saya bolak balik warnet jalan kaki jauh-jauh. Terbayang kan berapa banyak uang yang dikorbankan?

Sembari melengkapi berkas-berkas untuk beasiswa Bidik Misi, ada beberapa momen saat mendaftar SBMPTN yang teman-teman bisa ambil pelajaran berharga dari kisah saya. Pada bulan Mei 2014 saya mulai mencoba mewujudkan impian saya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan.

 

Perjuangan Mengikuti SBMPTN

Dimulai dengan registrasi SBMPTN yang penuh drama dan menguras pikiran. Waktu itu teman-teman seperjuangan yang juga mendaftar jalur SBMPTN mulai berdiskusi dengan saya. Berhubung saya dari jurusan IPS, maka jurusan Manajemen Universitas Sriwijaya (UNSRI) menjadi favorit siswa-siswa saat itu.

Karena prospek kerja yang cerah dan jurusan Manajemen UNSRI terakreditasi A, peminatnya dari tahun ke tahun makin meningkat. Pendaftarnya tidak hanya ratusan, tapi mencapai angka ribuan. Mendengar persaingan yang begitu ketat untuk masuk jurusan Manajemen UNSRI, teman-teman seperjuangan saya satu persatu mengubah niat. Mereka tidak jadi memilih jurusan tersebut, tapi memilih jurusan-jurusan lain yang dianggap mudah dan aman.

Namun hal itu tidak berlaku untuk saya. Tantangan yang saya sebut di atas saya anggap hal yang harus dihadapi jika mau mendapatkan yang terbaik di antara yang terbaik. Pada saat itu saya memutuskan untuk memberanikan diri mengisi pendaftaran SBMPTN dengan memilih jurusan Manajemen UNSRI  sebagai pilhan pertama, sementara itu di pilahan kedua ialah jurusan Sosiologi UNSRI dan pada pilihan terakhir adalah jurusan Manajemen Universitas Jambi.

Setelah saya selesai mengisi kartu registrasi SBMPTN, saya ditanya oleh paman dan tante. Mereka sangat peduli dengan pendidikan para keponakannya.  Saat saya mengatakan kalau saya memilih jurusan Manajemen UNSRI, paman saya kaget bukan kepalang.  Bahkan sempat memarahi saya. Beliau mengatakan dalam bahasa Palembang “gilo kau ini berani nian” yang atinya “gila kamu berani sekali”. Beliau mengatakan kalau jurusan Manjemen UNSRI itu peminatnya ribuan orang dan yang diterima tidak sampai seratus orang, apa lagi jalur  SBMPTN. Bahkan paman saya mengatakan dia berani taruhan dan yakin kalau saya tidak bakal lulus alias gagal di SBMPTN UNSRI.

Mendengar perkataan paman, gejolak semangat mendadak jatuh dan sedih. Namun saya yang masih bertekad dan mempunyai niat yang besar untuk melanjutkan pendidikan di jurusan terbaik.  Menguatkan diri dan berkata dalam hati “saya akan buktikan kepada semua orang kalau saya bisa”. Selama persiapan menuju ujian tes tertulis SBMPTN, saya belajar dengan keras untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Tibalah saat itu ujian tes tertulis SBMPTN dengan sepenuh hati dan keyakinan yang tinggi saya mengerjakan semua soal yang ada.

Setelah selesai menyelesaikan tes SBMPTN, saya hanya bisa pasrah menunggu pengumuman. Ketika saya sedang menunggu hari pengumuman hasil tes SBMPTN, saya mendapatkan kabar dari paman saya kalau pendaftar jurusan Manajemen UNSRI ada 3000 orang lebih dan kuota yang disediakan hanya 75 orang. Mendengar  hal itu, saya semakin bimbang dan ragu. Namun saya hanya bisa pasrah dan berdoa dan saya yakin saya bisa.

Saat-saat menegangkan itu muncul. Tepat pada tanggal 16 juli 2014, pengumuman hasil tes SBMPTN keluar. Hati mulai berdebar-debar sempat tak memberanikan diri untuk melihat hasilnya. Namun saya memberanikan diri untuk melihat. Saat portal SBMPTN terbuka dan saya melihat tulisan berwarna biru yang bertuliskan “selamat anda lulus SBMPTN di jurusan Manajemen UNSRI”, seakan tak percaya. Tapi itulah kehidupan. Pepatah Arab mengatakan “man jada wa jadda”. Artinya, “barang siapa bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil.” Kerja keras dan keberanian merupakan kunci utama saya dalam menggapai hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

Menunggu Pengumuman Beasiswa Bidik Misi

Menyambung ke proses seleksi penerimaan beasiswa Bidik Misi, perjuangan itu belum seberapa dibandingkan perjuangan yang akan saya ceritakan selanjutnya. Setelah pengisian berkas Bidik Misi, apakah perjuangan itu selesai? Ternyata belum teman-teman. Setelah pengisian berkas finish saya diminta menunggu tahap selanjutnya yakni tahap visitisasi.  Nah di bagian inilah yang paling membuat galau berkepanjangan. Saya menunggu itu lebih dari satu bulan. Sempat berfikir ketika lebih dari satu bulan tidak dikunjungi oleh pihak penyelenggara beasiswa Bidik Misi, saya berfikir kalau saya tidak lulus. Tetapi menyerah bukan style saya.

Sudah lebih dari satu bulan saya menunggu. Saat itu sedang memasuki bulan Ramadhan. Bulan ketika umat Islam seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Saya yang seumur hidup belum pernah mengendarai motor, keluar kota memberanikan diri mengunjungi Universitas Sriwijaya dari Palembang ke Indralaya. Perlu teman-teman ketahui, saya tidak tahu jalan menuju Indralaya. Terbayang kan betapa nekatnya saya? Hal itu terdorong dari galau berkepanjangan alias tanpa kepastian dari pihak penyelengara Bidik Misi. Ketika sampai di UNSRI,  jawaban yang saya dapat saat itu “tunggu saja di rumah. Kalau ada orang visitisasi berarti kamu lulus, kalau tidak ada ya berarti belum rezeki”. Saya dengar jawaban seperti itu cuma bisa  sabar.

Setelah lama menunggu kehadiran tim visitisasi Bidik Misi, akhirnya orang-orang yang sangat saya  harapkan kedatangannya  menghubungi saya. Waktu kehadiranya saya sangat ingat sekali.

Ketika harapan untuk menerima beasiswa Bidik Misi mulai memudar, tiba-tiba saat saya menjadi panitia amil zakat di masjid menerima telpon dari pihak bidikmisi.  Mereka akan mengunjungi rumah saya dan sedang berada di depan komplek rumah. Saat itu saya merasakan masih punya kesempatan kalau bahasa kerennya “second wind”. Akhirnya semua tahapan seleksi beasiswa Bidik Misi yang sangat super pun berakhir dengan memuaskan.

Setelah semua kerja keras dan usaha saya berbuah keberhasilan, tibalah pada mimpi untuk melanjutkan pendidikan di universitas negeri tanpa biaya dengan jurusan terbaik. Cerita berlanjut saat saya mendaftar ulang penerimaan mahasiswa baru  di Universitas Sriwijaya.

 

Menjadi Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidik Misi

Saat itu saya yang belum tahu apa-apa mengenai transportasi ke Indralaya. Bingung mencari jalan untuk menuju ke sana, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengendarai sepeda motor. Saya berangkat dari pagi-pagi hari dengan tekad yang kuat dan perjuangan tanpa batas mengendarai sepeda motor sejauh 32 km menuju Universitas Sriwijaya di Indralaya.

Perjuangan tak berhenti sampai di situ. Ketika menjalani serangkaian tahap pendaftaran ulang, saya yang mendaftar pada bagian awal namun saya dipanggil untuk cek kesehatan baru pukul 2 siang. Seluruh tahapan pendaftaran ulang saya berakhir pukul setengah 6 sore.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya dengan bahagianya menyandang predikat mahasiswa di universitas dan jurusan yang didambakan. Mengenakan almameter kebanggan, saya berhasil mewujudkan mimpi untuk melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan di universitas negeri tanpa biaya.

Perjuangan saya berlanjut setelah menyadang predikat sebagai mahasiswa. Saya menjalani perkuliahan dengan menyadang gelar di belakang nama saya “Penerima Beasiswa Bidik Misi”. Banyak sekali hal-hal baru yang saya dengar baik mengenai sistem perkuliahan maupun beasiswa Bidik Misi tersebut. Ada yang bilang kami penerima beasiwa Bidik Misi akan menerima bantuan laptop, uang transportasi, uang buku dan uang saku. Tetapi dari yang saya sebutkan tadi yang benar-benar terjadi hanya menerima uang saku sebesar 3,6 juta persemester. Namun hal itu tetap saya syukuri mengingat masih banyak teman-teman yang tidak seberuntung saya.

Mengenai jadwal pencairan dana bantuan beasiswa Bidik Misi, belum ada kabar pastinya kapan tanggal dan bulan penyerahannya. Saat uang simpanan untuk ongkos kuliah mulai menipis dan kabar pencairan dana beasiswa Bidik Misi belum mencapai titik terang, hati mulai resah dan gelisah. Namun penantian yang lama membuahkan hasil yang baik. Akhirnya pada bulan  November semester ganjil pertama kuliah, danapun cair. Begitupun seterusnya sampai sekarang ini.

Pesan saya kepada teman-teman yang sekarang masih duduk di bangku SMA/MAN/SMK, “ Jangan takut bermimpi untuk melanjutkan pendidikan kalian ke bangku kuliah, dan jangan pernah takut untuk mencoba. Tanamkanlah dalam diri kalian sifat perjuangan tanpa batas karena hasil tidak akan mengkhianati proses dan kerja keras dari teman-teman.”

Satu hal terakhir pesan saya kepada teman-teman yang akan melanjutkan pendidikannya  ke jenjang perkuliahan, “ Jangan pernah takut mewujudkan mimpi kalian untuk memilih universitas dan jurusan yang baik dan bagus, dan ingat jangan takut untuk mencoba kesempatan itu ada untuk orang yang berani mencoba. Jika 1000 orang yang ikut tes dan hanya diterima satu orang, pastikanlah satu orang itu kamu. Berani berjuang, berani bermimpi dan wujudkanlah mimpimu,do the best ,be good, and you will the best’.

 

#SALAM SUKSES PARA PEJUANG BANGSA

#AKUBIDIKMISI

 

 

 

Categories:   Beasiswa

Comments

  • Posted: Jan 10, 2017 07:38

    melda

    Pendftaran 2017 belum buka ya Kak admin?
  • Posted: Jan 10, 2017 08:13

    admin

    Belum dek. Nanti kalau sudah buka kita kabari ya. Semangat.
  • Posted: Jul 4, 2017 13:58

    Nurul

    Kak apa penerima bidikmisi harus pemegang KIP/BSM/KPS? soalnya aku bukan pemegang KIP/BSM, dan apa penerima bidikmisi harus punya piagam/sertifikat paling rendah tingkat kab/kota sebagai bukti prestasi. soalnya aku nggak punya piagam/sertifikat, tapi persyaratan yang lainnya aku memenuhi syarat sebagai penerima. Aku bingung :'(
  • Posted: Jul 8, 2017 08:40

    admin

    Nurul, semua sudah dijelaskan di sini: http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id// Kamu baca baik-baik lagi ya. Yang penting kamu berusaha dulu. Semangat.

error: Content is protected !!