Kampusgw.com

Menu

Apollos Theophilus Charis: Alumni Fisika Universitas Padjajaran

Perkenalkan, nama saya Apollos Theophilus Charis, alumni Fisika Universitas Padjadjaran. Mungkin cerita saya hanyalah cerita biasa, namun saya ingin belajar berbagi pengalaman karena hidup ini penuh dengan pembelajaran.

 

Saya alumni SMA Pangudi Luhur 2 Servasius, dan saya langsung percepat ceritanya. Konon, menurut mitos yang ada, sangat sulit memasuki perguruan tinggi negeri apalagi saya alumni SMA swasta. Namun itu tidak menghalangi niat saya untuk belajar mencoba. Saya adalah tipe orang yang akan terus penasaran apabila ada halangan yang belum saya lewati, penasaran bagaimana melaluinya.

 

Berbagai ujian perguruan tinggi saya tempuh, di antaranya SIMAK UI, UTUL UGM, SNMPTN, Ujian Masuk ITB, Ujian STAN dan SMUP Unpad. Hampir seluruh ujian saya mengalami kegagalan. Kekecewaan tentu terasa, persiapan belajar bertahun tahun (biar agak dramatis ceritanya) pun terasa sia-sia. Akhirnya tiba ujian SMUP Unpad. Dengan pasrah dan berserah, saya kerjakan soalnya, ternyata lumayan mudah. Singkat cerita, saya diterima di Fisika Unpad.

 

Dunia fisika yang “dimakan” di bangku kuliah menawarkan sensasi yang berbeda dengan bangku SMA. Saya merasa imajinasi saya harus dibawa lebih jauh dalam menganalisis berbagai hal yang ada. Misalnya saja, kenapa sih ada matahari, kalau gak ada apa sih pengaruhnya ke bumi kita? Bayangan saya saat itu, paling bumi sedikit membeku di kisaran suhu minus ratusan derajat celcius, atau bumi entah kemana larinya keliling tata surya.

 

Dunia fisika merupakan dunia yang berat namun ringan. Berat bila kita tidak belajar lebih gigih dan malas untuk berpikir keras. Ringan bila kita sudah menguasai metode ataupun langkah-langkahnya. Satu hal yang pasti, rajin mencari masalah dan menyelesaikan masalah merupakan langkah tercepat kita memahami suatu hal. Bila kita hanya puas di penyelesaian satu masalah, tentulah wawasan kita hanya sesempit burung di dalam sangkar.

 

Dunia fisika adalah dunia yang penuh tantangan, sebuah argumen yang dilontarkan harus dapat diuji dengan batasan yang jelas di mana terdapat suatu nilai atau angka yang menjadi standar dari sebuah kualitas. Oleh karenanya seorang fisikawan dituntut lebih ekstra mendekati sempurna, meski kita tahu tidak ada yang sempurna dalam hidup.

 

Belajar menjadi sempurna maupun mendekati sempurna itu butuh proses. Itulah yang saya alami di fisika kuantum. Salah menurunkan rumus di awal, otomatis semua rumus menjadi salah. Saya mengalami kegagalan di fisika kuantum selama dua tahun (dua kali semester ganjil). Dengan menerima kegagalan, saya belajar menerima dan mencintai mata kuliah tersebut. Saya ingat di semester ganjil yang berikutnya, saya hanya tidur 3 – 4 jam per hari, karena saya fokus belajar di sana. Kegigihan membuahkan hasil. Akhirnya saya mendapatkan nilai B secara jujur (karena saya paling tidak suka mencontek, karena ada pengandaian untuk apa orang buta menuntun orang buta).

 

Sebuah perjuangan tidak akan berakhir sia – sia. Emas yang murni akan terlihat murni ketika berada di perapian. Skripsi saya hanya sederhana, IPK hanya 2.8 sekian. Tulisan saya mengenai atom hidrogen 3D yang dikenai efek stark (medan listrik statik) pun mengalami revisi hingga ratusan kali. Dan berkat ijin-Nya, tulisan saya bersama dosen saya Liu Kin Men dipublikasikan di American Institute of Physics.

 

Saya pun semakin ketagihan untuk meneliti. Saya dan junior saya meneliti atom beryllium dengan metode variasi. Namun tulisan ini gagal dipublikasikan di Atom International Best Paper Award yang diadakan oleh BATAN karena daftar pustaka yang kurang memadai. Maklum buku yang saya pakai sebagai landasan teori dinilai sudah usang atau tua. Tapi tidak apa apa, paper itu pun hanya menjadi tulisan kenang- kenangan.

 

Saya pun melanjutkan penelitian ketiga, di mana prosesnya baru 20%. Topiknya tentang energi keadaan dasar atom boron dengan menggunakan metode variasi. Saya prediksi total kertas yang dipakai ada ratusan hanya untuk penurunan rumus, sekitar tiga kali lipatnya dari atom beryllium. Saya tertarik atom boron, mungkin suatu saat energi radiasinya bisa digunakan untuk membunuh kanker secara total.

 

Singkat cerita, akhirnya saya lulus dan bekerja sebagai Sales Engineering pintu otomatis. Awalnya saya malas mengerjakan hal itu karena kurang menantang menurut saya. Tapi seiring berjalannya waktu, pekerjaan ini sangat menantang dan membuat saya penasaran. Personal confidence, product knowledge, persistent perfection, dan kejujuran menjadi modal dasar yang harus dimiliki. Tidak mudah memang, namun kalau belajar maka saya yakin bisa.

 

Total proyek yang diraih pun sudah skala milyar. Namun saya masih tetap belajar mengevaluasi diri dan menerima untuk memperbaiki kelemahan. Saya mulai belajar memahami bagaimana sulitnya menjadi pengusaha dan mengapresiasi kerja keras para pengusaha. Merintis karir butuh waktu, namun untuk melakukan yang terbaik bisa dimulai sejak dini.

 

Untuk para generasi muda, bersyukurlah teknologi jaman sekarang sudah memiliki peradaban yang lebih maju. Jangan terkendali oleh gadget seperti tangan yang dirantai oleh handphone. Tetapi kendalikanlah gadget tersebut untuk memaksimalkan kreativitas. Jujur, walau gadget saya lumayan canggih tapi nggak bagus. Saya sering tinggal gadget itu di meja, dan lebih suka menulis dengan pulpen. Karena, si pulpen, adalah penentu keputusan, contoh sederhana tanda tangan, meski sudah ada touch screen untuk tanda tangan.

 

Jangan terlalu lama menyesali keputusan yang sudah dibuat, tapi ambillah langkah kecil untuk bangkit dan memulai lagi. Karena hidup ini penuh pembelajaran. Ada saatnya kita gagal, ada saatnya kita sukses. Latar belakang saya sebagai seorang fisikawan membantu saya untuk mengambil keputusan dan merencanakan sesuatu secara sistematis atau urut atau ter–algoritma dengan baik. Pikirkan dampak terburuk dan terbaik, perkirakan rencana cadangan untuk hal hal tak terduga.

Categories:   Jurusan

Comments