Kampusgw.com

Menu

Arie Raditya: Belajar Bahasa & Kebudayaan Korea Itu Seru

‘Demam’ Korea sepertinya belum reda. Mungkin sedang dan masih akan terus  bergelora. Ya, pengaruh kebudayaan Negeri Ginseng memang menyasar seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia.

 

Seiring dengan makin besarnya pengaruh Korea, minat masyarakat Indonesia untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan Korea makin tinggi. Hal itu bisa dilihat dari menjamurnya kursus bahasa Korea, makin banyaknya SMA yang membuka jurusan Bahasa Korea, hingga kampus-kampus yang membuka jurusan Bahasa atau Sastra Korea.

 

Nah, kali ini Kampusgw.com berkesempatan mewawancarai salah satu alumni Bahasa & Kebudayan Korea, Arie Raditya. Selama kuliah, beliau mencatatkan banyak prestasi. Salah satunya sebagai jawara lomba menyanyi Korea. Tak mengherankan, beliau pernah disebut sebagai Indonesia’s K-Pop Star.  Yang menarik, pekerjaan yang dijalani beliau masih saja berhubungan dengan Korea.

 

Nah, apa sih yang dipelajari dari Korean Studies itu? Bagaimana suka duka belajar di program studi tersebut? Bagaimana prospek pekerjaannya? Simak nukilan wawancara berikut ya.

 

Siapa nama lengkap Anda?

Arie Raditya

 

Kalau tidak salah Anda mengambil jurusan S1 Korean Studies di UI ya? Sebenarnya, apa sih motivasi Anda mengambil jurusan tersebut waktu itu?

The perks of new major. Memang sebenernya sudah sempat baca di beberapa artikel koran tentang kedatangan investasi masif dari negeri ginseng ke Indonesia, tapi saya baru menyadari ini justru setelah belajar. Logikanya Korean Studies cuma memiliki 3 kampus pada tahun 2008 dulu, 2 program S1 di UI, UGM dan D3 di UNAS. Tahun ini UPI juga baru buka, tentu dengan program khusus pendidikan.  Kesempatan untuk memenuhi demand pasti lebih besar, semacam hukum Blue Ocean ya kalau di ekonomi.

 

Saya pilih Universitas Indonesia karena namanya yang lebih general. Bukan Sastra Korea tapi nama programnya Bahasa dan Kebudayaan Korea. Gelar yang ditawarkan juga bukan S.S tapi S.Hum. Jadi nanti keluarnya bisa lebih fleksibel.

 

Apa sih yang dipelajari di Korean Studies itu?

Karena numpang di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), tentu kita belajar Bahasa Korea 6 SKS dibagi menjadi 6 tingkatan yang selesai dalam 3 tahun. Kita juga belajar linguistik dan susastranya. Nah karena nama jurusannya ada kebudayaannya juga, kita juga belajar dari segi kultur seperti kepercayaan masyarakat, bisnis dan korespondensi kantor. Sejarah Korea juga dipelajari mulai dari aspek susastra, dan politik baik dari prasejarah hingga kontemporer.

 

Apakah mahasiswa yang mengambil jurusan Korean Studies wajib menguasai bahasa Korea ketika masuk?

Tidak, ini sama sekali tidak menjadi prerequisite, bahkan topik (tesat of proficiency in korean language) saja nantinya tidak menjadi syarat kelulusan. Walaupun ada wacana karena Korean Studies di negara lain standarnya sekarang sudah sangat tinggi. Lulusan diharapkan paling tidak mencapai level 4/5 (bahasa). Banyak sekali adik-adik kelas saya yang malah mencapai level 6 dan itu menjadi stimulus untuk yang mau meneruskan studinya di Korea Selatan.

 

Apa keterampilan atau kompetensi yang biasa dimiliki lulusan Korean Studies?

Tentunya Bahasa Korea. Yang kedua pengetahuan umum tentang Korea dari sejarah, dinamika sosial dan politik. Secara khusus saya memiliki satu mata kuliah favorit yaitu Korbis (Korean Business) kan korespondensi. Karena kita diajari secara praktis bagaimana melakukan kegiatan kantor seperti di lapangan. Dulu masuk kelas sudah full pakai bahasa Korea, jadi adaptasi kita “pake bahasa kalbu” lol.

 

Keterampilanku sebagai penyanyi K-pop membawaku bisa manggung hingga Korea dan Bangkok, juara KTO K-pop Contes dan KBS Radio juga, hingga diliput oleh media-media lokal. Aku pun pernah mengikuti audisi yang diselenggarakan oleh management-management musik besar di Korea Selatan. Karena pastinya pengucapakan kita berbeda dengan orang-orang yang belajar otodidak atau drama biasa. Sekarang aku masih aktif menjadi juri di beberapa event coversing dan mendirikan komunitas K-pop Cover Indonesia.

 

Keterampilan khusus lain adalah penerjemahan. Ini juga tricky, karena secara praktis tidak semudah yang kita bayangkan. Struktur kalimat Korea terbalik dari struktur SPOK Indonesia.  Dia biasanya (K)S(K)OP. Maka, secara semantik sangat menantang. Bagaimana nanti kita bisa reinterpret dengan cantik ke klien, bedanya terjemah komik, tulisan dan lisan, masing-masing memiliki ciri tersendiri. Secara budaya, HWARANG (Hima Prodi) juga memiliki berbagai ekstrakulikuler menarik seperti Phungmul (Samulnori/Gendang Korea) dan tari kipas (buchaechum). Kita juga banyak dilibatkan bila ada acara dari badan-badan seperti kedutaan dan KCC/KTO atau lembaga korea lain yang ada di Indonesia. Jadi seru. Tiap tahun prodi (jurusan) juga mengadakan Korean Culture Day yang pengunjungnya bisa mencapai ribuan.

 

Bagaimana prospek kerja lulusan Korean Studies?

Prospeknya sangat menjanjikan, yaitu tadi karena dulu masih belum ada lawan. Ada pendapat kalau misal pria, bakor bagus itu pasti calon sukses hahaha karena majority nya perempuan seperti sekolah sekretaris dan keperawatan. Yang Korean Skill-nya diatas rata-rata bisa lanjut menjadi akademisi atau pasca ke Korea. Karena beasiswa banyak sekali dari KGSP, GSIS dan lain lain.

 

The tricky part is. Jadi translator itu kadang kurang menantang (walau ini objektif saya). Baik di kantor besar dan kantor kecil (mayoritas perusahaan Korea di indonesia adalah perusahaan cabang) jadi kalau nanti misalnya masuk kantor, harus bisa inisiatif self development/value adding sendiri. Kenapa? Karena perusahaan swasta dengan jenjang karirnya yang terbatas bisa bikin kamu cepat bosan. Dalam setaun bisa aja kamu diangkat jadi leader dan udah “mentok” disitu. Yang lebih sedih lagi banyak banget teman-teman di perusahaan Korea baru buka yang setelah semua establishing doc buat start up diterjemahin, dia bingung mau diapain penerjemahnya.

 

Disitu soft skill super-duper penting. Bahkan sampai saat ini banyak teman saya yang jadi fulltime freelancer. Ya ngajar ya nerjemahin konser-konser K-pop dan beauty seminar, trade expo dsb. Asal pintar atur jadwal dan pemasukan… freelancer juga menyenangkan buat kamu yang nggak mau terikat.

 

Bagaimana pendapat Anda mengenai demam Korea (Hallyu) di Indonesia belakangan ini? 

On and off ya sebenarnya tapi berasa banget. Saya pun dulu tertarik gara-gara lagu di game online ayodance. Ada peak-nya, sempat flob dan lately naik lagi. Tiap di lingkungan baru juga pasti pertanyaan pertamanya adalah: “lo nonton running man ga” ahahahaha riil sih, bahkan pulang ke rumahpun ibu nyetelnya drama Korea. Batas wajar aja sih. Kita kan juga punya budaya sendiri. Dan di saat kamu terpapar dengan terlalu banyak budaya asing nanti ada ekuilibriumnya (seperti law of diminishing marginal return lol) sendiri.  Nah aku dan beberapa teman mahasiswa Korea banyak banget justru yang nggak terlalu suka K-pop.

 

Bagaimana tingkat persaingan masuk jurusan Korean Studies di UI waktu itu?

Saat 2008 saya waktu itu bimbel di NF kalo tidak salah passgradenya sampai 700-an. Normal sih kalau diingat kursi yang diterima saat itu cuma di bawah 50-an. Tapi sekarang sepertinya Korean Studies UI bahkan ada program non-regulernya. Jadi, kuota kelas dan kesempatan masuknya juga lebih besar.

 

Apakah ada program pertukaran mahasiswa Korea-Indonesia khusus untuk mahasiswa jurusan Korean Studies? 

Banyak. Dulu saya setahun berangkat dari ASEAN University Network. Dia punya program fostering buat calon-calon leader dari seluruh negara ASEAN yang masuk dalam jaringan AUN. Teman lain ada yang berangkat dari kelembagaan seperti KOICA, atau langsung ke kampusnya seperti HUFS, Jeoson University, Kyungsung, Inha, Solbridge, CNU, KAIST dan masih banyak lagi. Lembaga nonprofit juga terkadang memberi kesempatan ini seperti dari KCC, dan Universitas Sogang. Manfaatkan aja internet dengan baik soalnya kadang justru yang seperti gini lebih mudah diakses sendiri.

 

Apa saran-saran Kak Arie untuk teman-teman yang ingin masuk jurusan Korean Studies?

Belajar di BKK UI merupakan satu fase penting dalam hidup saya karena mendukung dua passion saya dalam waktu yg bersamaan: akademik dan kesenian. Nah buat kalian yang mau masuk BKK UI, saran saya belajar dan jangan taruh jurusan ini di pilihan kedua, karena beresiko. Kalau memang minat, bulatkan aja tekadnya. Bila sudah masuk nanti di situ belajar memupuk dedikasi dan determinasi, begitu juga dengan fleksibilitas minat. Korean Studies ini ilmu yang sudah sangat segmented jadi runcingnya di start. Kebanyakan orang belajar Ilmu Ekonomi dulu baru fokus ke Koperasi (misal). Di BKK UI kamu langsung lompat dari yang di luar negeri masuk rumpun area studies, ini langsung ke spesifik satu negara yaitu Korea.

 

Kalau nanti setelah lulus kamu mau bridging ke bidang lain juga tidak menutup kemungkinan. Korean Business bikin kamu setengah jalan kalau mau terusin ke S2 Ekonomi, dan ketertarikanku terhadap Saemaul Undong (Korean Civil Society Value) dan homogenitas identitas masyarakat Korea membawaku belajar ke S2 HI.

 

BKK ini tidak mencetak dan menjamin kamu menjadi idol, tapi bagaimana cara blend in dengan masyarakat dan mengerti fenomena budaya Korea Selatan secara akademik, which is modal besar kalau memang kamu mau terjun ke K-pop. Buat fangirl dan fanboy juga hidup jadi praktis kan kalau nonton drama nggak pake subtitle lagi :p

 

BKK ini memungkinkan kamu bekerja sesuai minat, seperti teman saya yang freelancer, masih bisa mengurusi bisnis masak dan menjadi instruktur senam, dan pekerjaan terakhir saya yang mengatur konten multimedia dan influencer di perusahaan game mobile sambil melanjutkan gelar Magister.

 

Categories:   Jurusan

Comments