Kampusgw.com

Menu

Career Journey: Dr. Drs. H. Eko Kuntarto M.Pd, M.Comp.Eng

Namaku Eko Kuntarto, lahir di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Ayahku seorang guru SD, ibuku bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga. Aku adalah anak pertama dari 7 bersaudara.

Masa kecilku dihabiskan di desa tempat kelahiranku. Desa yang sejuk, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Untuk mencapai desaku kala itu, seseorang dari kota harus berjalan berkilo-kilo meter melalui jalan setapak di pematang sawah, dan menyeberangi sungai yang cukup lebar. Saat SD, aku memelihara kambing dan sapi. Aku memang suka binatang peliharaan. Karena cintanya kepada binatang, aku sering tidur di kandang yang memang sengaja kubuat sebagai tempat tidur, meskipun hanya beralaskan jerami dan daun kelapa.

Kesenangan memelihara kambing dan sapi, mengharuskan aku mencari rumput setelah pulang sekolah. Bersama teman-teman, aku berombongan naik gunung untuk mencari rumput yang hijau. Kemudian, aku memikulnya melewati bukit-bukit yang curam dan sulit didaki. Tetapi karena berombongan, hatiku tetap senang. Lebih-lebih, bambu pikulan untuk memikul rumput kubuat agar bisa bernyanyi dengan melumurinya dengan minyak tanah. Engket…engket…engket… begitu bunyinya, dengan suara bersahut-sahutan di dalam rombongan kami itu. Semakin keras suara pikulan, semakin senang hati kami. Biasanya, menjelang maghrib, kami sampai di rumah. Pekerjaan selanjutnya, adalah memberi makan hewan-hewan, kemudian mandi di sungai bersama teman-teman, dan bersiap-siap ke surau untuk shalat maghrib dan mengaji. Demikian rutinitasku setiap hari. Dengan kondisi ekonomi keluargaku, dan keadaan masyarakat saat itu, tidak pernah terlintas di hatiku untuk menjadi dosen, apalagi hingga mencapai gelar doktor. Berpikirpun tidak, apalagi bercita-cita.

Namun, saat di atas puncak bukit dan melihat ke sisi seberang, di bawah tampak jalan raya dengan mobil-mobil yang berseliweran meskipun belum sebanyak sekarang. Pada saat itu, aku merenung, “Seandainya suatu saat nanti, aku bisa ke kota dan naik mobil”. Tapi itu aku anggap sebagai lamunan yang tiada mungkin terlaksana. Hanya untuk menghibur hati serta mengganjal perut yang lapar karena seharian belum menjumpai nasi.

Tuhan memang pemilik segala rencana. Sekolahku di SD tidak pernah menginjak kelas 6 karena pada saat duduk di kelas 5, aku dipilih untuk ikut ujian kelulusan SD di kota. Alhamdulillah aku lulus dengan nilai yang cukup baik. Karena keberhasilan itu, aku kemudian masuk ke SMP Negeri di kota, tanpa tes. Hanya aku, satu-satunya murid di desa itu sekolah di SMP Negeri, apalagi tanpa tes. Hatiku sangat senang, begitu pula Bapak-Ibuku. Sebagai anak pertama, bapakku ingin agar aku bisa sekolah tinggi meskipun beliau hanya seorang guru SD yang miskin.

Untuk pergi ke sekolah (SMP), aku harus berjalan kaki berkilo-kilo meter. Aku berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Dari rumah pukul 04.00 pagi, dan pulang ke rumah pukul 19.00 malam, begitu setiap hari. Karena itu, aku tidak pernah sarapan pagi. Di sekolah, aku jarang jajan karena memang tidak punya uang saku. Aku makan sehari sekali, di malam hari sepulang dari sekolah. Kadang, di jalan ada orang-orang yang kasihan kepadaku, memberi jajan atau hasil sawah mereka. Kadang ubi, mentimun, atau ketela. Semua kumakan mentah. Aku bersyukur tidak pernah sakit perut karena makanan mentah itu. Mungkin perutku kasihan kepadaku jika aku sakit. Demikian kehidupanku selama tiga tahun penuh. Tahun 1977 aku lulus SMP. Alhamdulillah nilaiku termasuk salah satu yang terbaik. Beberapa saat sebelum kelulusan, aku diikutkan lomba aritmatika (dulu belum ada matematika). Alhamdulillah menjadi salah satu juara tingkat propinsi.

Setelah lulus SMP, dengan prestasi yang cukup bagus, aku ingin masuk STM (sekarang SMK). Waktu itu aku bercita-cita ingin menjadi teknokrat yang bisa membuat pembangkit listrik karena di desaku belum ada listrik. Bapakku yang guru SD tidak setuju dengan keinginanku itu. Beliau tidak ingin aku masuk STM karena menurut beliau sekolah di STM sama dengan belajar untuk menjadi preman. Dengan keras dan tegas bapakku mengatakan, “Kamu anak guru, harus jadi guru”. Bapak ingin agar aku masuk SPG (sekolah pendidikan guru). Dengan berlinang air mata kuterima keinginan bapak, meskipun hatiku berontak. Aku sangat sedih karena keinginanku tidak tercapai, tetapi aku tidak kuasa melawan kehendak orang tua. Dalam budaya keluargaku yang orang asli Jawa, pantang hukumnya melawan orang tua. Aku ikuti saja semua keinginan beliau.

Dengan prestasi belajar di SMP, tidak sulit bagiku untuk masuk SPG meskipun kala itu termasuk sekolah favorit. Dari sekitar 1000 pendaftar, hanya 90 orang yang diterima. Aku termasuk salah satunya.

Pada masa itu, sekolah di SPG gratis, bahkan, aku diasramakan. Semua kebutuhanku disediakan, termasuk uang saku sebesar 2 ribu rupiah sebulan. Luar biasa. Tapi hatiku tidak di situ. Aku ingin masuk STM. Aku tidak kerasan sekolah di SPG. Hampir tiap hari aku berbuat onar, dengan keinginan agar dikeluarkan dari SPG. Tapi Tuhan memang mungkin telah menyusun jalan hidupku. Aku harus melewati sekolah di SPG agar menjadi seperti sekarang. Pada akhir semester 1, hampir semua nilai pelajaranku “merah”. Bapakku mendapat SP (surat peringatan) dari kepala sekolah. Beliau murka kepadaku. Pada saat pulang, aku dihajarnya habis-habisan, dicambuk dengan rotan sampai babak belur. Aku hampir saja putus asa, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Pada saat aku dalam keadaan terpuruk itu, Tuhan mempertemukanku dengan seorang guru muda yang kemudian jadi penuntunku. Beliau adalah Bapak Prayit, BA. Seorang sarjana muda lulusan Fakultas Sastra UGM yang diangkat menjadi guru di sekolah kami. Beliau mengajar Bahasa Indonesia. Entah mengapa, beliau sangat perhatian kepadaku. Beliaulah yang mengerti apa kesukaanku. Aku suka musik, beliau mengajakku bermain band sekolah. Dari situ bakat musikku mulai tampak. Itulah awal aku mulai senang bersekolah di SPG. Beliau jugalah yang membujukkan agar suka menulis. Mesin tik satu-satunya milik beliau, diberikannya kepadaku. Aku mulai mencoba menulis. Awalnya aku menulis kisah hidupku, keinginanku untuk masuk STM, dan bapakku yang sangat keras dalam mendidikku.

Pak Prayit sering membaca tulisan-tulisanku. Beliau kadang memuji, tetapi kadang juga mengkritik. Hal itu membuatku makin senang dan bersemangat menulis. Ketika aku naik ke kelas 2, Pak Prayit menawariku untuk mengikuti lomba menulis karya ilmiah. Aku mencobanya. Tanpa kuduga, aku menang pada tingkat kabupaten, karesidenan, sampai tingkat propinsi. Akhirnya, aku menjadi wakil pelajar SLTA tingkat propinsi untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah remaja tingkat nasional. Aku sama sekali tidak pernah menduga, jika kemudian menjadi juara tingkat nasional. Peristiwa itu menyentakkan banyak orang. Mereka hampir tidak percaya dengan prestasiku, “si Eko yang bengal” itu.

Menjelang perayaan 17 Agustus, aku dan para juara dan para telandan lainnya diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah. Dengan diantar oleh Gubernur, Kepala Kanwil Dikbud Propinsi, dan kepala sekolah, aku berangkat ke Jakarta. Kala itu perasaan tidak menentu, antara senang dan takut. Ternyata, pemberian hadiah dilaksanakan di Istana Negara, oleh Presiden RI kala itu, Bapak Suharto yang didampingi oleh Ibu Tien Suharto dan pejabat lain. Aku serasa dalam mimpi saat kakiku menginjak karpet lantai Istana Negara. Aku masih ingat, Pak Harto dan Ibu Tien mengucapkan selamat seraya mencium pipiku dan teman-teman.

Mungkin karena penampilanku yang “katrok” alias udik, Ibu Tien berkenan mengajakku berbincang-bincang. Beliau menanyakan asalku dari mana, dan apa keinginanku setelah menjadi juara. Pak Harto yang duduk di samping beliau pun mendengarkan perbincangan kami. Aku mengatakan, “Ibu Presiden, saya hanya ingin melanjutkan sekolahku di perguruan tinggi, tetapi hal itu tidak mungkin Ibu”. Ibu Tien terkejut mendengar perkataanku itu. Beliau bertanya, “Kenapa begitu nak?”  Saya mengatakan bahwa sekolahku di SPG dibiayai negara (ikatan dinas). Setelah lulus, saya harus menjadi guru SD sesuai kontrak.

Saya melihat Ibu Tien tersenyum, senyum yang paling indah yang pernah kulihat dari seorang ibu. Kemudian, saya lihat beliau “njawil” (mencolek) lengan Pak Harto. Dari sudut mataku yang tertunduk, aku lihat Pak Harto menoleh sambil tersenyum. Beliau kemudian bertanya, “Kamu ingin kuliah di mana, nak?” Saya terbata-bata menjawabnya. Aku katakan tidak tahu harus kuliah di mana tapi aku ingin membuat listrik. Itu jawaban yang aku sampaikan dengan hati berdetak kencang karena takut. Pak Harto kemudian memanggil seseorang yang berpakaian tentara (saya kemudian tahu, bahwa beliau adalah ajudan presiden). Pak Harto menyuruh beliau agar esok menjemputku di hotel dan mengantarkannya kepada Syarif (saya kemudian tahu bahwa yang dimaksud Syarif adalah Prof. Syarif Thayeb, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan).

Benarlah, esok paginya aku dijemput oleh ajudan Pak Harto, naik mobil Jip yang sangat nyaman menuju ke Hotel Indonesia. Di sana, aku dipertemukan dengan Mendikbud. Kemudian Mendikbud mengenalkan aku kepada seluruh rektor yang kala itu sedang mengadakan Rapat Kerja Nasional. Pak Menteri langsung mengatakan agar rektor yang perguruan tingginya ada di Jawa Tengah bisa menerimaku sebagai mahasiswa tanpa tes, dan Presiden akan memberikan beasiswa kepadaku untuk kuliah sampai selesai. Saya ingat ketika itu Rektor Undip Semarang, Unsud Purwokerto, UNS, IKIP Semarang dan beberapa perguruan tinggi lain menyanggupinya. Saya hanya berdiri dengan kaki yang lemas karena begitu bahagia. Saya sebut nama Tuhan dan Bapak-ibuku, yang menjadi jalan bagi kehidupanku. Itu semua terjadi mungkin karena kepatuhanku kepada orang tua. Seumur hidup, aku belum pernah membantah perintah beliau, sesulit apapun perintah itu.

Demikianlah, keadaanku sekarang adalah hasil dari sebuah perjalan panjang yang penuh onak dan duri. Alhamdulillah, aku sekarang tinggal menikmati. Hampir semua keinginanku sudah tercapai, termasuk beribadah ke tanah suci, mengantarkan 6 orang adikku sampai semua lulus minimal sarjana dan menikah. Kedua orang tuaku dan mertua, alhamdulillah juga sudah berkesempatan beribadah ke tanah suci. Keenam adikku sudah berkeluarga dan sukses. Adikku yang nomor 4 menjadi dosen, dan sudah doktor. Dua orang adikku yang lain telah mencapai pendidikan S2. Selebihnya sarjana. Penghasilku sebagai dosen yang pas-pasan, ternyata penuh dengan barokah sehingga bisa melakukan banyak hal.

Aku sangat menyukai profesiku sebagai dosen. Banyak pengalaman indah yang pernah kujumpai dalam karirku itu. Aku merasa senang jika berjumpa dengan mantan muridku yang telah berhasil. Mereka pada umumnya juga menyukai perjumpaan denganku. Tiada yang lebih menyenangkan bagi seorang guru selain disukai oleh murid-murid dan mantan murid-muridnya.

Aku ingat pesan bapakku, “apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu petik di hari tua kelak. Maka tanamlah tanaman yang bagus agar berbuah bagus, enak dan manis rasanya”. “Belajarlah terus kapanpun dan di manapun. Nistalah seorang guru jika di depan murid-muridnya tidak bisa tampil dengan pintar dan inspiratif”. “Jadilah orang yang ramah, suka menyapa, murah senyum dan tidak suka marah, karena watak pemarah, sombong, dan tidak ramah adalah watak buruk yang tidak disukai oleh siapapun termasuk oleh diri kita sendiri”. Pesan itu kujadikan “tali kekang” bagi hidupku. Mungkin, pesan itu juga bisa berguna bagi orang lain, terutama mahasiswa dan rekan-rekanku dosen.

Kupikir, masalah utama dunia pendidikan saat ini berkaitan erat dengan pesan bapakku itu. Masalah pendidikan di Indonesia menyangkut lemahnya karakter, lunturnya jati diri bangsa, hilangnya rasa kemanusiaan dan kepedulian kepada sesama. Bangsa ini dibangun atas dasar budi dan daya (budaya), namun kini budaya khas bangsa ini hampir musnah. Pendidikan selama ini ternyata hanya menciptakan robot-robot bernyawa tetapi tidak menciptakan manusia yang punya rasa. Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif telah menghilangkan sisi “manusia” dari bangsa ini yang santun, berbudaya, ramah, toleran, dan sederhana. Karena itu, guru dan dosen hendaknya membangkitkan kembali pendidikan budaya dan karakter, melalui bidang kajian yang digelutinya. Menjadi guru dan dosen tidak hanya “membelajarkan” tetapi juga “mendidik”. Tugas mendidik adalah tugas yang berat, tetapi akan menjadi mudah jika didasari oleh kepedulian terhadap kondisi bangsa ini. Hal itulah yang selama ini menjadi landasan filosofiku dalam menjalankan tugas sebagai dosen.

Untuk mencapai derajat guru/dosen yang pintar dan inspiratif, seorang harus terus-menerus belajar hingga ke jenjang yang lebih tinggi (S2 dan S3). Dengan terus belajar, wawasan kita akan bertambah luas. Pola pikir juga akan bertambah tajam. Semakin tinggi pendidikan kita maka mestinya akhlak juga harus semakin baik, sifat harus semakin bijak. Pepatah mengatakan, “semakin berisi, padi akan semakin merunduk”. Seseorang yang berpendidikan tinggi harus semakin “wise”, bijaksana dalam berpikir dan berperilaku, ibadahnya semakin mantap, dan ketakwaannya kepada Tuhan semakin tinggi. Malam-malam harus diisi dengan ibadah, mensyukuri nikmat Allah SWT, dan menambah ilmu dengan membaca buku-buku dan kitab suci. Itu yang menjadi “passion” ku sekarang.

Apa yang telah kusampaikan di muka, bukanlah untuk orang lain, melainkan lebih sebagai “kaca benggala” atau alat instrospeksi bagi diriku sendiri. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk menggurui apalagi sombong. Kini, aku tinggal mensyukuri semua karuni Allah SWT ini, sambil membahagiakan orang tua dan keluarga, serta mendorong anak-anakku agar sukses dunia-akhirat.

Ku akhiri kisahku ini dengan puisi.

AKU ADALAH

Aku adalah,

sejumput akar yang menancap di antara ilalang dan tumbuhan berduri.

Aku adalah,

sepotong kayu yang jatuh dari tebing licin dan berbatu,

Aku adalah,

selembar daun kering yang rontok diterpa angin musim kemarau,

Aku adalah,

sebatang dahan lapuk yang luruh dari ketinggian dan jatuh menimpa bebatuan.

Jika aku menjadi seperti sekarang,

itu bukan karena hebatnya aku tetapi karena dzikir tengah malam bapak-ibuku,

Jika aku menjadi seperti sekarang,

Itu bukan karena keberuntunganku melainkan kehendak Illahi Rabb ku,

Jika aku menjadi seperti sekarang,

Itu bukan karena doaku melainkan karena doa guru-guruku.

Maka itu,

apalah yang harus kubanggakan?

Maka itu,

adakah yang patut kusombongkan?

Maka itu,

Masih pantaskah jika aku tertawa terbahak-bahak?

Yaa Allah, illahi Robbi,

ampuni jika hamba selama ini kufur akan segala pemberianMU

maafkan jika hati ini dipenuhi ulat-ulat dengki nadi-nadi nafsu.

Aku hanyalah sepotong daging busuk yang menjijikkan dan terbuang,

Aku hanya seonggok tanah hitam yang lembek dan tertuang,

Aku hanya sejumput rumput yang kering dan gersang.

Apalah kuatku?

Apalah mampuku?

Apalah kuasaku?

Kuserahkan seluruh jiwa ragaku kepadaMu Wahai Pemilik Tuwwa!

Kupasrahkan hidup dan matiku kepadaMu Wahai Pengikat Jiwa!

Aku hanya mampu menanti,

Aku hanya bisa berjanji,

Sampai Engkau tidak lagi sudi,

Melihat kakiku menginjak wajah bumi.

Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar.

 

Jambi, 15 Desember 2016

Categories:   Karir

Comments

  • Posted: Jan 8, 2017 23:05

    muhammad norman

    Sungguh kisah yang sangat inspiratif pak.
  • Posted: Jan 9, 2017 11:14

    admin

    Terima kasih.

error: Content is protected !!