Kampusgw.com

Menu

Kesuksesan Bermula dari Mimpi

Bagi teman-teman yang merasa hidup ini sempit, atau yang memiliki mimpi untuk belajar ke luar negeri namun rasanya “jauh panggang dari api”, bangkitlah! Ubah pemikiranmu, ganti paradigmamu, dan raih kesuksesan lebih dari yang kamu cita-citakan!

Sewaktu SMA dulu, ketika saya berkata bahwa suatu saat nanti saya akan pergi ke Amerika, seorang teman berkata “jangan mimpi”. Saya dan teman tersebut memang tidak ambil pusing dengan percakapan kami tersebut, tetapi saya heran mengapa dia begitu pesimis dengan mimpi? Bukankan seluruh kreasi di dunia ini berasal dari mimpi?

Wright bersaudara berimpi untuk menciptakan benda yang bisa membawa manusia terbang di langit seperti burung, Antonio Meucci sang penemu telpon bermimpi agar manusia dapat berkomunikasi meskipun dari jarak jauh, Bung Karno pun bermimpi untuk mendirikan sebuah negara berdaulat yang bebas dari cengkraman penjajah. Lalu apa bedanya dengan mimpimu? Bahkan, mimpimu untuk belajar ke luar negeri tidak sebanding dengan mimpi para penemu dan pahlawan tadi. Yakinlah, bahwa di mana ada kemauan, Tuhan pasti membuka jalan.

Tidak lama setelah percakapan tersebut, sekelompok orang yang merupakan perwakilan dari Yayasan Bina Antarbudaya datang ke sekolah kami dan menawarkan program pertukaran pelajar selama satu tahun ke Amerika. Dengan tanpa beban, saya dan teman-teman pun mengikut seleksi tahap demi tahap. Seleksi pertama adalah seleksi administasi dan tes tulis mengenai pengetahuan umum. Seleksi kedua dilakukan di tingkat provinsi berupa diskusi kelompok dan wawancara. Seleksi terakhir adalah seleksi di tingkat nasional di mana saya dan teman-teman dari seluruh Indonesia mengikuti serangkaian tes di Jakarta.

Selama masa seleksi ini, saya tidak “dijagokan” akan lulus program pertukaran tersebut. Sebagian orang memprediksi si A yang paling hebat dalam mata pelajaran bahasa Inggris-lah yang akan terpilih. Sebagian lainnya memprediksi si B yang memang sangat cerdas dan selalu memperoleh rangking pertama di kelas. Sementara pada waktu itu, kemampuan bahasa Inggris saya tidak semumpuni si A dan peringkat kelas saya hanya sampai pada range 10 besar. Mungkin tidak ada yang memprediksi bahwa sayalah yang akan lolos seleksi hingga meraih beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika.

Saat ini, barulah saya faham, faktor apa yang membuat saya lolos di tengah gempuran energi negatif yang umumnya akan menghancurkan sisi keyakinan dan psikologis seseorang yang tengah mengikuti seleksi: optimisme yang dimanifestasikan dalam bentuk take it easy dan let it flow-feeling. Yup, saya tidak ambil pusing dengan sikap teman-teman yang tidak menjagokan saya, pun saya tidak sakit hati dengan ucapan-ucapan mereka. Saya tetap menjalani kegiatan seperti biasa, dan mengikuti proses seleksi dengan sebaik mungkin, sesuai dengan kemampuan alami saya. Ternyata, mental optimisme itulah yang membuat saya berhasil “menangkal” pemikiran-pemikiran negatif yang ada disekeliling saya, dan membawa saya meraih kesuksesan.

Jadi, untuk teman-teman yang saat ini tengah down atau merasa tidak aja jalan untuk meraih kesuksesan, jangan mau kalah atau menyerah! Ingat, bahwa kelahiran setiap individu di dunia ini adalah sebuah kemenangan yang luar biasa. Kita berasal dari satu sel sperma yang berkompetisi dengan jutaan sel sperma lain untuk mencapai sel telur di dalam rahim ibu. Kita telah dipilih dan ditakdirkan untuk menjadi PEMENANG! Jika kamu melihat dunia ini penuh kesulitan dan kekacauan, maka sadarlah.  Justru untuk itu kamu dilahirkan. Kita semua adalah pemenang yang dilahirkan ke dunia untuk menyingkirkan kesulitan dan memperbaiki kekacauan.

Satu faktor lain yang juga berpengaruh dalam kesuksesan kita ialah: Doa. Kamu boleh saja berusaha sekuat tenaga, tetapi ingat bahwa masih ada Tuhan, yakni entitas tunggal yang berkuasa penuh atas dirimu dan alam semesta. Jika kamu ingin sekolah di luar negeri atau mendapat beasiswa, mintalah pada-Nya, karena jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada satupun yang mampu menghalangi kehendak-Nya.

Penulis: Marella Alfaton, Garut – Jawa Barat

Categories:   Ragam

Comments