Kampusgw.com

Menu

Apa dan Siapa Duta Wisata? Abah Hamid: Dosen Millennial Kebanggaan Banten

Dosen ialah salah satu profesi terhormat di tengah benak masyarakat Indonesia. Profesi ini tidak kalah menterang dengan pengusaha, dokter, polisi, pilot, tentara, dan lain-lainnya.

Menjadi dosen tidaklah mudah. Bukan seperti guru yang sebagian besar waktunya untuk mengajar, dosen juga dituntut untuk meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Itu mengapa hanya orang-orang yang memiliki panggilan hidup sebagai pendidik yang bisa berprestasi di profesi ini.

Menjadi dosen di Indonesia penuh dengan tantangan. Meski profesi ini menuntut minimal pendidikan S2 atau S3, penghasilan yang diterima kurang kompetitif dibandingkan profesi lain. Di luar itu, dosen masih dibebani berderet pekerjaan administratif yang menyita waktu. Sehingga, hanya mereka yang  sabar bisa melenggang hingga jenjang Profesor.

Karena penghasilan yang diterima kurang kompetitif, banyak dosen yang mau tidak mau “mengamen”. Entah mengajar di banyak kampus, berbisnis, atau mengejar proyek-proyek tertentu untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Akibatnya, tugas penting untuk meneliti sering terabaikan. Belum termasuk tuntutan untuk meneluarkan publikasi di jurnal ilmiah tingkat nasional dan internasional.

Nah, kali ini Kampusgw.com sangat beruntung. Pasalnya, bisa mewawancarai salah satu dosen millennial paling inspiratif di negeri ini.

Adalah Abdul Hamid. Seorang dosen asli Banten yang saat ini mengajar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sosok yang di dunia maya dikenal dengan Abah Hamid ini sangat aktif berbagi inspirasi seputar  “drama” profesi dosen di Indonesia. Sehingga disadari atau tidak, menjadi teladan bagi dosen-dosen yang lebih muda untuk berprestasi.

Penasaran bukan dengan sosok Abah Hamid? Apa yang sahabat Kampusgw.com bisa pelajari dari kisah hidupnya? Dan mengapa para calon dosen millennial harus berguru kepadanya jika ingin sukses di profesi ini? Simak nukilan wawancara berikut ya.

 

 

Siapa nama lengkap Bapak?

Nama saya Abdul Hamid, di kampus dan di dunia digital dipanggil Abah Hamid.

 

Apa kesibukan Bapak sehari-hari?

Tentu saja mengajar, meneliti, menulis dan mengurus keluarga, termasuk kucing-kucing saya.

 

Bisa diceritakan latar belakang pendidikan Bapak?

Sekolah dasar sampai SMP di Pandeglang, SMA di Serang. Kemudian kuliah S1 Ilmu Politik di Universitas Indonesia, S2 Ilmu Politik di Universitas Diponegoro dan S3 di Graduate School of Global Studies Doshisha University, Kyoto, Jepang.

 

Apakah sejak kecil Bapak bercita-cita sebagai pengajar?

Tidak, waktu kecil  saya maunya jadi Presiden dan di zaman itu mau tidak mau ya musti jadi tentara. Cuma nggak lolos tes masuk Akabri. Terus sempat hampir jadi politisi, namun gagal jadi calon anggota DPD di tahun 2004. Kemudian saya memutuskan menjadi akademisi, mengajar dan meneliti.

 

Apakah Bapak pernah menekuni profesi lain sebelum menjadi dosen?

Saya pernah jadi trainer, hampir jadi politisi, nyaris jadi wartawan, akhirnya jadi dosen.

 

Sebenarnya, apa panggilan hidup Bapak?

Menjadi pengajar yang tak sekedar mentransfer pengetahuan, tapi juga membangun karakter dan motivasi anak didik. Serta tentu saja jadi ilmuwan yang berintegritas.

 

Jika boleh tahu, apa misi hidup Bapak?

Wah, bagi saya bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang sudah cukup.

 

Apa suka duka Bapak sebagai dosen?

Saya pernah jadi dosen tidak tetap di Universitas Indonesia cukup lama dari 2005-2011, sambil di saat yang sama mengajar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Kampus kedua akhirnya saya pilih karena saya diangkat menjadi Dosen tetap PNS dan berkesempatan berkontribusi lebih untuk kampung halaman saya di Banten.

 

Apa pengalaman paling mengesankan sejauh ini sebagai dosen?

Waduh banyak ya. Sebagai dosen yang mengajar sekaligus menajdi peneliti, saya berkesempatan belajar banyak sampai ke Jepang, Belanda, juga memiliki kesempatan menyampaikan hasil-hasil penelitian saya di banyak negara. Menariknya di dunia akademik tak ada yang paling pintar atau paling hebat. Orang-orang besar di bidang saya yang pernah saya bertemu seperti Harold Crouch atau Ben Anderson jutsru amat humble.

 

Apa saja kesibukan Bapak selain Tri Dharma Perguruan Tinggi? Apakah Bapak berkecimpung di bidang lain?

Saya mengelola website abdul-hamid.com yang menyediakan berbagai informasi seputar pendidikan tinggi. Selain itu saya menjadi anggota Dewan Riset Daerah Provinsi Banten. Saya juga aktif di sosial media sebagai sarana menyampaikan pemikiran dan menjalin hubungan dengan banyak orang. Tulisan-tulisan saya di www.abdul-hamid.com cukup menjadi rujukan bagi dosen-dosen di seluruh Indonesia.

 

Di luar sana ada asumsi yang mengatakan bahwa sangat dianjurkan bagi anak muda yang bermimpi menjadi dosen untuk langsung melanjutkan S2 dan S3 tanpa jeda setelah tamat S1. Bagaimana tanggapan Bapak?

Ya, zaman berubah. Ketika saya jadi dosen tahun 2006, syaratnya masih S1, tapi sekarang minimal S2. Nanti mungkin syaratnya S3. Saya pikir jika ada kesempatan lanjut saja ke S2 dan S3 jika memang memutuskan jadi akademisi sambil membangun portoflio dan jaringan terutama dalam riset.

 

Dengan melihat usia Bapak sekarang ini, Anda telah mengantongi berbagai prestasi yang membanggakan. Sebenarnya berapa jam rata-rata Anda istirahat (tidur) setiap harinya?

Tidur saya normal, 6-8 jam. Saya kadang-kadang masih mendongeng untuk anak saya sebelum dia tidur. Saya banyak menggunakan waktu untuk membaca di perjalanan, itulah makanya saya sebisa mungkin menggunakan kendaraan umum.

 

Apa kegiatan Anda di waktu luang?

Menulis di Cafe yang nyaman dan kopinya enak, he he. Selain itu ngeblog, bergaul di medis sosial dan menerbangkan drone.

 

Kalau boleh tahu, apa sebenarnya passion Bapak?

Menjadi dosen yang serius, menghasilkan karya-karya yang berpengaruh dan bermanfaat.

 

Banyak yang mengatakan bahwa menjadi dosen itu tidak bisa kaya, tapi bisa dikatakan cukup. Bagaimana menurut Bapak?

Standar penghasilan dosen di Indonesia amat rendah. Di berbagai daerah banyak yang digaji amat kecil — terutama dosen honorer –dan pemerintah tidak peduli. Harusnya ada standar yang dibuat.

 

Mengherankan memang, bahkan gaji dosen PNS bergelar Ph.D di Jakarta bisa kalah oleh gaji guru PNS dengan pendidikan S1. Padahal investasi pendidian tinggi itu mahal. Maka pendidikan tinggi kita tidak maju-maju karena sulit menarik best talent untuk masuk ke dunia pendidikan tinggi, kalah atraktif dibanding mengajar di luar negeri atau kerja di dunia swasta.

 

Mereka yang telanjur masuk mau tidak mau menambah kegiatan untuk menambah penghasilan, atau berburu jabatan struktural (baca: tugas tambahan). Bayangkan, tunjangan fungsional dosen sudah 11 tahun tidak dinaikkan. Jadi wajar ketika dalam situasi begini banyak yang protes dengan kebijakan akan mendatangkan dosen asing yang digaji Rp.65 juta/bulan, sekitar 5-10 kali gaji dosen normal di Indonesia.

 

Menurut Bapak, apa saja permasalahan paling mendasar di dunia pendidikan tinggi Indonesia?

Pertama, soal rendahnya penghasilan dosen sebagaimana di atas. Kedua, rekrutmen yang tidak diformulasikan untuk mencari ilmuwan, lebih ke mencari pegawai. Ketiga, sistem yang belum merit-based. Keempat, dana penelitian yang kecil. Kelima, infrastruktur pendidikan tinggi yang masih kurang. Wah masih banyak yang lain.

 

Apa karakter yang harus dimiliki oleh seorang dosen?

Tentu saja yang pertama adalah keingintahuan akan masalah-masalah yang ada di bidang ilmunya. Hal ini akan memaksa dosen untuk terus bertanya dan melakukan riset untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karakter utama lain adalah integritas. Ini modal penting karena itulah yang membuat dosen bisa kita sebut sebagai intelektual. Berani menyampaikan apa yang dipahami dan diyakini apa adanya. Boleh salah, tapi tidak boleh bohong.

 

Apa arti kesuksesan bagi Bapak sebagai seorang dosen?

Saya merasa sukses ketika hasil penelitan saya dibaca, dikomentari atau dikutip orang. Rasanya nggak sia-sia susah-susah meneliti dan menulis.

 

Apa arti kebahagiaan di mata Bapak sebagai seorang dosen?

Sebagai seorang dosen saya merasa sukses ketika bertemu (mantan) mahasiswa yang tiba-tiba menyapa dan menyampaikan bahwa ia telah hidup berhasil dan jujur. Ini hal yang tidak ternilai.

 

Apa pesan-pesan Bapak bagi para mahasiswa yang ingin menjadi dosen?

Jika ingin menjadi dosen, cari bidang yang menjadi fokus, perkuat dan pelajari secara serius. Selepas S1 sebisa mungkin lanjut S2 dan S3. Belajar sambil membangun portofolio akademik.

 

Apa pesan-pesan Abah bagi mahasiswa jaman now?

Zaman berubah. Mahasiswa zaman sekarang harus betul-betul mengetahui apa yang dia inginkan dalam hidup (passion) serta berusaha untuk menjadi yang terbaik di bidang itu. Berkompetisi tidak dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri.

 

Bagi yang ingin mengenal lebih dekat Abah Hamid, bisa mengunjungi langsung blognya: www.abdul-hamid.com atau bersapa melalui surat elektronik di abdul.hamid@untirta.ac.id.

 

 

 

 

 

Categories:   Sosok

Comments

  • Posted: Jul 18, 2018 17:01

    Ihya

    Saya orang pamulang, Tangsel malah baru tahu ada orang hebat seperti Abah. Kereeen!
  • Posted: Jul 23, 2018 13:10

    admin

    Ya begitulah sip.

error: Content is protected !!