Kampusgw.com

Menu

Ari Yuda Laksmana: Alumni SSEAYP yang Sukses Membesarkan ReSkills Indonesia

                Nama Ari Yuda Laksmana tidak asing lagi di Indonesia, khususnya yang berkecimpung di dunia training dan coaching. Terlebih lagi, belakangan ia didapuk sebagai Country Manager for ReSkills Indonesia – sebuah startup asal negeri jiran Malaysia.

                    Kesuksesan Ari rupanya tidak diraih begitu saja. Jebolan Unisba dan UPI Bandung ini mengaku sudah berjuang mati-matian untuk meraih mimpinya sejak kecil. Bagaimana liku-liku perjalanan karier alumni SSEAYP (Ship of South East Asian Youth-Program) ini? Simak selengkapnya dalam nukilan wawancara berikut ini.

Siapa nama lengkap Anda?

Ari Yuda Laksmana

Apa kesibukan Anda sehari-hari?

Coach, Training, Consulting, Startup, Entrepreneur, Country Manager for ReSkills Indonesia.

Bisa diceritakan pendidikan Anda dari SD hingga SMA?

SD Negeri Rahayu 3 Margaasih, lokasi 2 km dari rumah biasa dulu jalan kaki ke sekolah karena masih dalam kompleks.

SMP Negeri 8 Bandung, kurang lebih 3 km dari rumah, ke sekolah dulu naik sepeda. Aktif di PKS (Patroli Keamanan Sekolah) sebagai Komandan Peleton dan Komandan Kompi, Wakil Ketua OSIS dan sempat juga jadi Wakil Ketua di DKM sekolah.

SMU Negeri 8 Bandung, sudah naik motor ke sekolah karena lokasi di Buah Batu, dari selatan ke barat. Waktu itu adalah salah satu sekolah favorit di Bandung. Ketika SMU aktif di Pencinta Alam Acalapati, Ketua bidang Matematika dan Sosial di Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), juga Ketua Bidang Seni dan Olahraga OSIS.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Anda pernah menempuh studi di 2 kampus berbeda dengan dua jurusan di jenjang S1. Mohon ceritakan dengan detil berikut suka-dukanya?

Betul, karena tidak lulus UMPTN, saya mendaftar di Universitas Islam Bandung (UNISBA) di jurusan Psikologi, dan tahun berikutnya coba lagi UMPTN dan lulus diterima di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan sastra Inggris. Karena jaraknya masih dalam satu jalur tempuh menggunakan motor 5-7 km jadi saya pikir masih bisa diatasi lah. Untungnya kalau kampus negeri itu kuliahnya hanya ada di pagi hari sampai jam 12;30, setelahnya tidak ada jadwal, sehingga siang dan sorenya saya isi dengan mata kuliah yang ada di UNISBA.

Sukanya banyak karena jadi banyak teman dan bisa belajar banyak hal. Satu sisi otak kanan saya termanjakan dengan ilmu-ilmu sastranya dan otak kiri saya juga terasah dengan ilmu-ilmu di psikologi. Secara intuisi juga jadi semakin tajam karena bertemu dengan berbagai macam karakter orang. Apalagi kalau ada tugas lab psikologi untuk cari sample, tinggal minta tolong teman-teman di Sastra. Belum lagi dan juga sebaliknya. Dukanya, hampir tidak ada, hanya satu saja saya tidak sempat lempar toga dengan teman-teman seangkatan saya karena telat wisudanya.

Apa pengalaman terbaik yang Anda peroleh ketika mengikuti program Kapal Pemuda ASEAN-Jepang? Seberapa besar dampaknya bagi perkembangan diri dan karier Anda sekarang?

Pengalaman terbaik saya dalah belajar kepemimpinan langsung melalui interaksi dengan 300 lebih pemuda dari negara ASEAN dan Jepang yang mana kita belajar memahami budaya mereka dan belajar memimpin dari setiap kegiatan yang diadakan selama kurang lebih 2 bulan di Kapal Pesiar Nippon Maru. Seperti halnya ditempa di kawah candradimuka setelah program selesai, wawasan saya menjadi luas dan terbuka serta kepercayaan diri saya dalam memimpin dan berprestasi sangat tinggi sekali seolah-olah tidak ada yang tidak mungkin. Dan ini secara signifikan berdampak sekali dalam hidup saya hingga membentuk saya seperti ini.

Belakangan Anda dikenal sebagai perintis ReSkills di Indonesia. Apa itu ReSkills?

ReSkills adalah teman harian pembelajaran online bagi masyarakat baik di Indonesia maupun secara global. Karena ReSkills merupakan platform online learning yang dihadirkan untuk masyarakat global dengan para trainer yang berkualitas standar global pula.

Mengapa ReSkills perlu dimanfaatkan pelajar dan masyarakat Indonesia?

Dalam masa pandemik ini semua kegiatan beralih ke online, termasuk belajar pun online, namun disatu sisi pembelajaran dari sekolah tidak cukup untuk mengembangkan skill kita, perlu ada tambahan belajar untuk menambah skill kita ini. ReSkills hadir untuk membantu kebutuhan tersebut, ketika masyarakat banyak yang belum bisa mengakses pembelajaran online baik dari segi finansial maupun teknologi, dengan ReSkills kita memberikan akses yang mudah dan terjangkau.

Bagaimana cara menjadi Trainer di ReSkills?

Bisa masuk ke reskills.com disitu ada pilihan menu Become ReSkills Coach, nanti isi form registrasinya. Atau bisa langsung hubungi saya. Nanti saya langsung kirimkan link registrasinya dan saya sarankan untuk mengikuti sesi sosialisasi tentang ReSkills dan bagaimana menjadi trainer di ReSkills sehingga mendapatkan gambaran terlebih dahulu sebelum mendaftar.

Apa diferensiasi atau nilai plus ReSkills dibandingkan Edutech lainnya?

Menariknya ReSkills, kita menghadirkan pengalaman yang seamless kepada para learners dengan kelas-kelas OnLive yang diadakan setiap harinya sehingga learners bisa berinteraksi langsung dengan trainernya dan dengan segera mengimplementasikan hasil pembelajaran praktis yang didapat dalam waktu yang singkat.

Apa passion Anda?

Passion saya adalah people development dan empowerment.

Di usia berapa Anda menyadari pangggilan hidup Anda?

Saya baru menyadarinya di usia 26 tahun, padahal saya sudah terlibat dengan kegiatan-kegiatan terkait profesi yang saya tekuni sejak SMP, bagaimana saya senang berbagi dan menjadi pendengar yang baik bagi teman-teman saya. Membawakan training-training di kampus dan ketika saya volunteer di sebuah LSM, atau mengerjakan proyek dari dosen saya. Namun di usia 26 tahun saya mengikut satu pelatihan kepemimpinan yang membuat saya melihat diri saya yang dulu dan diri saya yang akan datang. Disitulah saya menyadari bahwa panggilan hidup saya dalah memberi manfaat dan dampak kepada orang banyak dengan berbagi ilmu.

Apakah profesi Anda saat ini sudah sesuai dengan nilai-nilai hidup Anda?

Betul, saya punya nilai-nilai memberdayakan orang lain, fair dan integitry karena tidak harus terlibat dengan politik kantor nanmun tetap menunjukkan yang terbaik dari saya dan yang paling penting saya bisa memberi manfaat ke lebih banyak orang

Apa suka duka menjadi Coach?

Lebih banyak sukanya. Karena saya bisa bertemu banyak orang dengan berbeda karakter, saya bisa belajar memahami orang dan mengasah kemampuan coaching saya. Dukanya sampai saat ini belum ada yang terasa 

Apa suka duka menjadi Trainer?

Lebih banyak sukanya daripada dukanya. Setiap membuat materi, saya menikmatinya dengan kreativitas namun masih memperhatikan kebutuhan peserta. Ketika membawakan training, saya menikmatinya karena senang berbagi ilmu sekaligus belajar banyak dari peserta. Ketika selesai training saya menikmatinya karena saya akan  merayakan dengan keluarga saya. Terkadang dukanya kalau kaki sudah pegal-pegal jadi tak bisa all out bermain dengan anak setelahnya.

Apa mimpi Anda yang belum tercapai?

Membawa keluarga saya keliling dunia.

Bagaimana Anda memandang sebuah keberhasilan?

Keberhasilan itu relatif. Ketika kinerja kita dihargai secara tulus, maka itu buat saya sudah sebuah keberhasilan. Suatu hari saya bertemu dengan mantan peserta training saya, dan beliau masih ingat training saya dan pembelajarannya, sampai beliau menyampaikan apresiasi bahwa apa yang dia capai saat ini berkat training saya yang dia ikuti. Rasa kepuasan tersendiri yang bisa saya nikmati atas dampak yang didapat oleh orang yang belajar dari training saya. Saya bisa bilang bahwa saya berhasil memberikan dampak.

Bagaimana Anda mengartikan kebahagiaan?

Bagi saya kebahagiaan itu sederhana. Ketika melihat anak saya melakukan hal-hal baru yang dia pelajari dan tersenyum, itu sudah membuat saya bahagia.

Apakah hobi Anda?

Hobi saya sebenarnya traveling. Sayangnya, sejak pandemi ini saya tidak bisa menyalurkan hobi. Saat ini saya merubah konsep traveling saya dengan menikmati video yang memberikan ilustrasi tempat-tempat wisata. Saya suka dengan videografisnya. Lumayan bisa lihat pemandangan di luar sana 

Bagaimana Anda menyeimbangkan waktu bekerja dan bersama keluarga di masa pandemi? Nah ini menarik, karena ketika pandemik in bekerja dan bersama keluarga sudah bias, tidak ada lagi batasannya. Karena saya lebih banyak bekerja dari rumah (WFH) secara fisik saya hadir bersama keluarga, dan ketika ada waktu jeda saya luangkan secara berkualitas dengan keluarga saya. Terkadang sambal bekerja sambil membiarkan anak saya berkhayal sedang bekerja di samping saya.

Apa prinsip hidup Anda?

Until you try, you’ll never know what you cannot do, sebuah kutipan dari Henry James. Orang bilang sky is the limit, saya selalu mencoba apapun sampai saya menyadari kalau saya tidak bisa. Itulah mungkin yang membawa saya sampai saat ini.

Siapa orang yang paling berjasa atau berpengaruh terhadap kesuksesan Anda selama ini?

Keluarga saya, dari mulai orang tua yang memberikan contoh dan mendidik saya bagaimana untuk selalu mandiri dan bertanggung jawab, kakak-kakak saya yang selalu support saya ketika masih sekolah dan kuliah dulu. Sekarang istri dan anak-anak saya yang selalu sabar dan ceria memberi semangat kepada saya untuk terus maju dan berkembang.

Siapa role model Anda?

Role model saya adalah orang tua saya. Ayah saya yang tegas dan gigih. Ibu saya yang sabar dan telaten. Figur yang begitu saling melengkapi ini yang membuat saya selalu membawa terus value mereka ke dalam cara kerja saya.

Categories:   Sosok

Comments

  • Posted: Oct 14, 2021 11:15

    Calvyn Lee

    Yet to congrats you become the country manager for reskills in ID.
  • Posted: Oct 30, 2021 19:56

    admin

    Yeay

error: Content is protected !!