Kampusgw.com

Menu

Belajar dari Motivator Kebahagiaan Arvan Pradiansyah: Leadership & Happiness Motivator Paling Berpengaruh di Indonesia

        “Setiap orang memiliki jalan masing-masing”. Meski terdengar klise, pepatah tersebut tak lekang dimakan zaman. Tetap relevan sampai saat ini. Persis ketika Kampusgw.com belajar banyak dari perjalanan hidup seorang Arvan Pradiansyah. Motivator di bidang kepemimpinan dan kebahagiaan paling berpengaruh di Indonesia.

Perjalanan Mas Arvan menemukan passion dan panggilan hidup (calling) rupanya begitu berliku. Ia berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mencoba-coba. Menambah pengalaman demi pengalaman sembari menemukan apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup, profesi apa yang paling sesuai dengan hatinya, dan bagaimana ia bisa berdampak positif dalam kehidupan sesama.

Kesuksesan Mas Arvan memerlukan proses yang begitu panjang. Ada catatan keringat, darah, dan air mata di setiap jengkal tahapnya. Semua tahapan kehidupan yang dilaluinya membentuk kualitas dirinya sekarang ini.

Siapa sebenarnya sosok Arvan Pradiansyah? Bagaimana transformasinya dari karyawan perusahaan hingga menjadi CEO di perusahaan sendiri? Di usia berapa ia menemukan passion dan panggilan hidupnya?  Dan apa yang sahabat Kampusgw.com bisa pelajari dari perjalanan hidupnya? Simak nukilan wawancara berikut.

 

 

Siapa nama lengkap Bapak?

Arvan Pradiansyah.

 

Apa kesibukan Bapak sehari-hari?

Saya adalah Motivator Nasional di bidang Leadership & Happiness, Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM), Penulis Buku, Konsultan, Fasilitator dan Kolumnis di media massa nasional.

 

Sebenarnya, apa panggilan hidup Bapak?

Menjadi Motivator yang menginspirasi banyak orang melalui karya-karya saya, baik berupa buku, talkshow, artikel dsb.

 

Di usia berapa Bapak menemukan panggilan hidup?

Ini pertanyaan yang bagus, dan sangat sesuai dengan yang saya jelaskan dalam buku saya “I Love Monday”. Perjalanan menemukan panggilan hidup (calling) ini tidak sebentar dan cukup panjang. Saya sempat “tersesat” selama kurang lebih 2 tahun. Setelah saya lulus S1 dari Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia saya memasuki dunia Public Relations (PR) karena sejak kuliah sudah mendapatkan arahan dari para dosen dan senior agar menekuni dunia Komunikasi setelah lulus nanti.

Tahun 1994 tanpa direncanakan sebelumnya saya mulai bekerja di perusahaan konsultan manajemen. Salah satu pekerjaan yang saya sukai adalah memfasilitasi workshop di mana saya berinteraksi langsung dengan para peserta pelatihan dan mengubah mindset mereka menjadi lebih baik. Saya sangat menikmati pekerjaan ini karena pada dasarnya saya suka mengajar. Di kampus dulu saya juga sudah menjadi Asisten Dosen sejak kuliah di tingkat 3.

Setelah bekerja di kantor Konsultan Managemen selama 2 tahun, saya mendapatkan beasiswa Chevening Awards untuk melanjutkan pendidikan saya ke Inggris. Saya diterima di jurusan Communication Studies di London School of Economics (LSE). Tetapi ketika sudah sampai di London, saya berubah pikiran dan memutuskan untuk menekuni dunia Human Resources Management. Untungnya di jurusan yang dimaksud masih ada 1 tempat kosong, sehingga saya akhirnya diterima di Department Industrial Relations, dan saya mengambil MSc dalam bidang Industrial Relations & Human Resources Management. Saya lulus tahun 1996 dan langsung pulang ke Indonesia.

Di Indonesia saya bergabung dengan Development Dimensions International ((DDI) sebuah konsultan dalam bidang SDM (berpusat di Pittsburgh, Amerika Serikat). Saya di DDI 4 tahun kemudian pindah ke Dunamis Franklin Covey Indonesia dan bekerja di sana selama 3 tahun. Di kedua perusahaan ini saya bekerja sebagai konsultan dan fasilitator. Sesungguhnya pada saat itu saya sudah merasa nyaman dengan posisi saya sebagai Fasilitator tapi tetap belum merasa bahwa pekerjaan ini adalah panggilan hidup (Calling) saya.

Selama 2 tahun berikutnya saya bekerja di Asuransi Allianz Life Indonesia sebagai General Manager di bidang Organization & People Development. Saat itu saya menerima tawaran bekerja di Allianz karena saya ingin merasakan bekerja di perusahaan besar (korporasi) dan bukan di konsultan. Ada keinginan juga untuk menerapkan semua skills dan pengetahuan yang selama ini telah saya dapatkan di perusahaan konsultan.

Pertengahan tahun 2004 saya keluar dari Allianz karena ingin kembali menekuni dunia konsultan. Saya mulai merasa bahwa konsultan merupakan pilihan yang terbaik dalam hidup saya. Namun kali ini alih-alih bekerja pada sebuah perusahaan konsultan saya memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan konsultan sendiri. Maka berdirilah ILM pada tanggal 1 Juli 2004.

 

Kalau boleh dianggap pada saat itulah saya menemukan calling saya. Berarti saya menemukannya pada saat saya berusia 36 tahun.

Tapi kalau mau lebih mantap lagi, saya menemukan calling saya itu ketika saya menulis buku I Love Monday di tahun 2011. Buku itu memang membahas mengenai Tiga Paradigma dalam Melihat Pekerjaan Kita yaitu: Job, Career dan Calling. Di situlah saya benar-benar merasa mantap akan Calling saya sebagai Motivator, Penulis dan Pembicara Publik.

Jadi, saya menemukan Calling secara mantap itu ketika saya berusia 43 tahun. Menurut saya ini agak terlambat. Tapi kalau Anda membaca buku saya I Love Monday, saya yakin Anda akan bisa menemukan Calling Anda lebih cepat daripada saya.

 

Apa suka duka selaku Motivator?

Sukanya: Bisa bertemu banyak orang, menginspirasi dan memotivasi banyak orang, penghasilan yang sangat memuaskan, bisa traveling ke seluruh Indonesia dan semua biaya  perjalanan dibiayai oleh client, bisa belajar terus dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dukanya: Tidak ada.

 

Apa suka duka selaku penulis?

Sukanya: Bisa menyalurkan uneg-uneg, bisa menginspirasi banyak orang yang tidak pernah bertemu dengan saya secara langsung, dan dikenal banyak orang. Dukanya: Tidak ada.

 

Apa pengalaman paling mengesankan sejauh ini sebagai seorang Motivator dan Trainer?      Bisa bertemu dengan banyak orang penting di berbagai perusahaan, berbagi dengan mereka, dan memotivasi mereka. Bisa bertemu dengan banyak CEO dan pemimpin perusahaan, juga pada akhir tahun 2015 saya bertemu dengan Ibu Iriana Jokowi dalam sebuah penerbangan dari Solo ke Jakarta. Saya menuliskan pertemuan itu di Twitter dan selama 2 hari twit tersebut menjadi trending topic nasional.

 

Apa pengalaman paling mengesankan sejauh ini sebagai seorang penulis?

Dua buku saya ditampilkan di acara Kick Andy Metro TV yaitu You Are Not Alone (2009) dan Happiness Café (2015). Buku ketiga saya Cherish Every Moment muncul sebagai buku terfavorit versi Koran Tempo di tahun 2007.

 

Kalau boleh tahu, siapa orang yang paling mempengaruhi kehidupan dan karir Anda sejauh ini?

Ibu, Ayah dan Istri saya,

 

Kalau boleh tahu, siapa sosok panutan/teladan Anda? Dan mengapa anda mengagumi sosok tersebut?

Cak Nur dan Gus Dur karena mereka adalah berpandangan luas dan pluralis. Juga Ibu Theresa karena beliau pengasih dan sangat mengedepankan kasih dalam setiap tindakan dan langkahnya.

 

Dengan melihat usia Bapak sekarang ini, Anda telah mengantongi berbagai prestasi yang membanggakan. Sebenarnya berapa jam rata-rata Anda istirahat (tidur) setiap harinya? Sekitar 6 jam.

 

Apa kegiatan Anda di waktu luang?

Traveling, jalan-jalan dengan keluarga, membaca buku, menyanyi, dan bermain musik (keyboard).

 

Kalau boleh tahu, apa sebenarnya passion Bapak?

Passion saya adalah berbicara dan menginspirasi orang banyak, saya lebih suka menyebutnya calling ketimbang passion.

 

Di usia berapa Bapak menemukan passion?

28 tahun sudah mulai suka melakukan hal-hal tersebut.

 

Anda dikenal Trainer, Penulis dan Motivator. Sejak kapan Anda menekuni peran tersebut?

Sejak berusia 28 tahun. Tapi waktu itu saya belum benar-benar merasakan calling saya di sana. Saya hanya suka saja melakukannya. Trainer, Penulis, dan Motivator waktu itu baru menjadi passion saya, belum Calling saya.

 

Orang-orang sukses biasanya mengalami suatu kejadian yang mengantarkannya kepada titik balik. Apakah Anda pernah mengalaminya? Bagaimana Anda memandang titik balik tersebut?

Tidak ada pengalaman khusus. Hidup saya mengalir dan berproses begitu saja.

 

Menurut Bapak, seorang Trainer dan Motivator yang baik itu seperti apa?

Harus menjadi Role Model (panutan). Apa yang dikatakannya haruslah sudah dilakukan dulu. Kalau tidak demikian reputasinya akan hancur berantakan.

 

Menurut Bapak, seorang Penulis yang baik itu seperti apa?

Harus banyak membaca buku, harus punya pengetahuan yang luas. Menulis juga harus dilakukan dengan hati, dengan penuh cinta. Jangan menulis karena ingin tenar atau punya banyak uang.

 

Menurut Bapak, bagaimana tren industri  training di tanah air?

Senantiasa meningkat. Semakin lama semakin banyak perusahaan yang sadar akan pentingnya mengembangkan SDM nya.

 

Apa karakter yang harus dimiliki oleh seorang Trainer menurut Bapak?

Harus dapat dipercaya, berani menyuarakan kebenaran, dapat menginspirasi orang untuk menjadi lebih baik,dan bisa menyampaikan segala sesuatu dengan sederhana (simple).

 

Apa arti kesuksesan bagi Bapak?

Sukses adalah Getting What We Want. Mendapatkan apa yang kita inginkan.

 

Apa arti kebahagiaan bagi Bapak?

Bahagia adalah Wanting What We Get. Menginginkan apa yang kita dapatkan.

 

Anda dikenal juga sebagai penulis buku. Kalau boleh teman-teman Kampusgw.com tahu, buku apa saja yang pernah Anda tulis?

Saya sudah menulis 10 buku yang semuanya best seller. Judul bukunya: You Are A Leader, Life is Beautiful, Cherish Every Moment, The 7 Laws of Happiness, You Are Not Alone, I Love Monday, Life is Beautiful 2, Happiness @arvanpra, Happiness at Work dan yang terbaru Happiness Café.

 

Apa motivasi Anda menulis buku?

Menyalurkan uneg-uneg dan berbagi inspirasi.

Kapan waktu yang paling sering Anda pilih untuk menulis? Dan seberapa sering Anda menulis setiap harinya (berapa jam)?

Tidak ada waktu yang khusus, tapi yang paling penting adalah mood. Karena itu saya harus selalu mengelola pikiran saya agar mood saya selalu bahagia dan siap menulis setiap saat.

 

Apa pesan-pesan Bapak bagi para generasi muda yang ingin menjadi Penulis?

Banyak membaca buku, belajar dari banyak orang yang berbeda-beda latar belakang pengetahuan, budaya, dan agama.

 

Apa pesan-pesan Bapak bagi para generasi muda yang ingin menjadi Trainer?

Sama dengan yang di atas. Juga yang sangat penting adalah meluruskan niat. Niatnya adalah untuk melayani orang lain, bukan sekedar mencari uang. Percayalah semakin tulus kita melayani orang lain semakin banyaklah rezeki yang akan menghampiri kita.

 

Categories:   Sosok

Comments