Kampusgw.com

Menu

Bambang Trimansyah: Kunci di Balik Institut Penulis Indonesia

 

Halo sahabat Kampusgw.com, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya. Aamiin.

Ngomong-ngomong kalian adakah yang ingin menjadi penulis? Jika ada, kali apa sih motivasinya? Apakah ingin menjadi terkenal? Bergelimang dengan royalti? Atau apa ya?

Nah, kali ini Kampusgw.com berhasil mewawancarai tokoh kepenulisan di Indonesia yang top markotop. Seorang yang mendedikasikan dirinya secara utuh di dunia penulisan. Huaaa, penasaran kan?

Yes, beliau ialah Bapak Bambang Trims. Siapa sih beliau? Bagaimana latar belakangnya? Bagaimana ia jatuh bangun menghidupi diri sebagai penulis? Yuk simak nukilan wawancaranya berikut.

 

Siapa nama lengkap Bapak?

Bambang Trimansyah

 

Apa kesibukan Bapak sehari-hari?

Menulis, mengelola Institut Penulis Indonesia, dan mengajar penulisan-penerbitan.

 

Apakah cita-cita Bapak di masa kecil?

Tidak nyambung dengan yang sekarang. Saat kecil saya ingin sekali menjadi polisi. Saat SMA mulai realistis ingin berkiprah di bidang teknik. Tapi, kemudian gagal masuk ITB, saya lebih realistis.

 

Sebenarnya, apa panggilan hidup Bapak?

Panggilan hidup saya adalah berbagi ilmu, pengalaman, dan pengetahuan. Itu sebabnya saya menikmati kegiatan menulis dan mengajar kapan pun dan di mana pun.

 

Di usia berapa Bapak menemukan panggilan hidup?

Kalau disebut kesadaran untuk menekuni profesi, saya sudah mulai sejak semester I di bangku kuliah yaitu di Prodi D3 Editing Universitas Padjajaran. Waktu itu usia saya 19 tahun. Jadi, pendidikan saya sangat nyambung dengan setting profesi yaitu menjadi penulis dan editor.

 

Apakah Bapak pernah “mencicipi” profesi selain penulis sebelumnya?

Tidak, kecuali menjadi guru dan dosen yang semuanya juga masih berhubungan dengan menulis. Secara bersamaan saya juga menekuni profesi sebagai editor naskah.

 

Apa suka duka selaku penulis?

Sukanya saya mendapatkan posisi tawar yang kuat di lingkungan kerja, bahkan menjadi direktur pada usia 31 tahun. Selain itu, saya telah berplesir ke beberapa negara hanya karena saya menjadi penulis dan editor. Dukanya masih soal penghargaan finansial yang kadang minim dari para penerbit kepada penulis.

 

Apa pengalaman paling mengesankan sejauh ini sebagai seorang penulis?

Banyak. Saya tahun 2015 mengerjakan biografi seorang pengusaha Jepang yang bergerak dalam bidang onderdil otomotif. Saya diundang ke Kyoto untuk mewawancarai beliau dan dijamu layaknya tamu kehormatan. Pengalaman mengesankan sebenarnya karena banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang hendak dituliskan kisahnya. Saya melakoni diri sebagai ghost writer dan co-writer juga. Selain itu, dapat kesempatan pergi keliling Indonesia, termasuk ke mancanegara.

 

Apa saja kesibukan Bapak selain di dunia penulisan? Apakah juga aktif di bidang lain?

Saya menekuni dunia pendidikan juga menjadi trainer dan instruktur berbagai pelatihan penulisan-penerbitan. Terkadang saya juga diminta menjadi konsultan di bidang industri penerbitan. Saya juga aktif di organisasi Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) sebagai Direktur Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (Alinea). Tahun 2016, saya menjadi tim pendamping ahli untuk Panja RUU Sistem Perbukuan di Komisi X DPR-RI. Jika tidak ada pekerjaan yang mengharuskan saya diam di tempat, ya saya plesiran ke mana-mana untuk bertemu banyak ide. Saya juga lagi mengembangkan edutech start-up di bidang kursus daring (online) penulisan-penerbitan bernama InstitutPenulis.id.

 

Dengan melihat usia Bapak sekarang ini, Anda telah mengantongi berbagai prestasi yang membanggakan. Sebenarnya berapa jam rata-rata Anda istirahat (tidur) setiap harinya?

Tidur saya biasa saja seperti orang kebanyakan. Hanya jika dalam kondisi fit menulis, saya akan berhenti pada pukul 24.00, tetapi lanjut lagi pada pukul 5.00 subuh.

 

Apa kegiatan Anda di waktu luang?

Nonton film, bermain bersama anak, dan membaca.

 

Kalau boleh tahu, apa sebenarnya passion Bapak?

Passion saya sudah ditemukan saat saya masih kuliah yaitu di dunia buku. Dunia buku itu ada penulisan, penyuntingan, desain, hingga pemasaran. Saya menaruh perhatian terhadap semua itu sejak tahun 1991 sehingga tidak terlalu lama saya menentukan pijakan karier.

 

Di usia berapa Bapak menemukan passion?

Sama dengan di atas waktu itu saya berusia 19 tahun, berarti sejak lulus SMA dan masuk kuliah.

 

Menurut Bapak, seorang penulis yang baik itu seperti apa?

Penulis yang baik adalah yang tahu untuk apa dia menulis dan untuk apa dia menjadi penulis. Di atas passion (renjana) dan juga panggilan hidup itu adalah kesadaran kita pada kebenaran. Artinya, jalan yang kita pilih harus memberikan makna yang benar kepada diri kita tentang pilihan hidup kita. Saya sendiri sadar akan jalan kebenaran setelah melewati usia kepala empat. Meskipun saya tahu passion saya dan panggilan hidup saya, saya belum mengoptimalkannya karena belum jelas benar mengetahui apa yang saya mau dari hidup saya ini.

 

Menurut Bapak, bagaimana tren industri kreatif (khususnya penulisan) di tanah air?

Berkembang pesat dan akan lahir banyak sekali calon penulis, terutama dari generasi Y dan generasi milineal. Mereka akan berkiprah di banyak genre dan banyak bidang.

 

Apa karakter yang harus dimiliki oleh seorang penulis menurut Bapak?

Pertama, unjuk gigih karena di dalam dunia penulisan, penolakan adalah hal biasa yang harus diterima. Penulis yang tidak tahan ditolak berkali-kali akan lemah dan gugur dengan sendirinya persis seleksi alam. Kedua, ia juga harus mempelajari menulis dengan baik dan benar dan jangan merasa menulis sebagai sebuah hobi atau kesenangan belaka. Banyak sekali ilmu menulis yang sudah berkembang dan memerlukan ketekunan untuk mengasahnya. Ketiga, penulis harus rendah hati, tetapi sekaligus percaya diri.

 

Apa arti kesuksesan bagi Bapak sebagai seorang penulis?

Sukses adalah sebuah proses ketika seorang penulis bereksperimen dengan keterampilannya, lalu menghasilkan karya yang dapat memengaruhi orang lain. Setiap karya adalah sukses dan itu dicapai secara bertahap. Tidak ada yang instan dalam dunia penulisan.

 

Apa pesan-pesan Bapak bagi para generasi muda yang ingin menjadi penulis profesional?

Sukai dan cintai dahulu bidang ini bukan karena ada duit dan ada popularitas di situ, melainkan ada bentuk kenikmatan lain yaitu dapat berbagi. Pelajari dengan saksama dan carilah guru yang tepat untuk mengajarkan menulis sebagai keterampilan, sekaligus profesi. Jangan belajar menulis tanpa guru karena itu adalah profesi yang menuntut profesionalitas pelakunya. Terima kasih.

Categories:   Sosok

Comments