Kampusgw.com

Menu

I Made Andi Arsana: Intelektual Muda Berpengaruh dari Pulau Dewata

Teman-teman. Apa yang ada di benak jika mendengar kata “dosen”?  Mungkin satu di antara kalian langsung menyahut, “dosen ya guru, alias pengajar”. Bisa jadi sebagian langsung mengaitkannya dengan sosok karismatik penuh ilmu yang menginspirasi. Barangkali ada yang berani berkomentar, “profesi mulia, tapi nggak bisa  kaya”.

Well, apapun pendapat teman-teman itu sah-sah saja. Karena masing-masing di antara kita memiliki cara pandang masing-masing. Ya, to?

Nah, masih dalam tema #InspirationTalk. Kali ini Kampusgw.com beruntung bisa ngobrol-ngobrol dengan salah satu dosen keren. Seorang pengajar yang di usia relatif masih muda sudah menyelesaikan Strata Tiga di Negeri Kanguru, Australia. Selain itu juga telah menulis berbagai buku, opini di media massa, proceeding di berbagai konferensi internasional, melakukan penelitian, dan mengelola blog yang hits. Beliau bernama Bapak Andi. Pria kelahiran Pulau Dewata (Bali) yang terkenal dengan keindahan alam dan keunikan budayanya. Seperti apa liku-liku petualangan hidup beliau? Langsung saja simak yuk!

 

Siapa nama lengkap Bapak?

I Made Andi Arsana

Apa kesibukan Bapak sehari-hari?

Dosen dan Peneliti Teknik Geodesi UGM dan Kepala Kantor Urusan Internasional UGM. Ayah dari satu orang anak perempuan, suka berkebun, hobi memasak.

Bisa diceritakan latar belakang pendidikan Bapak?

Saya menghabiskan masa kecil dan remaja di Bali. SD 1 Tegaljadi lulus tahun 1990, SMP 2 Marga, lulus tahun 1993 dan SMA 3 Denpasar, lulus tahun 1996. Setelah itu saya pindah ke Jogja masuk Teknik Geodesi UGM dan lulus tahun 2001. Setelah diterima jadi dosen UGM tahun 2003, saya mulai sekolah S2 tahun 2004 dan lulus tahun 2006 di University of New South Wales, Sydney, Australia. Tahun 2008 saya memulai pendidikan S3 dan selesai tahun 2013 di University of Wollongong, Australia.
Sejak S1 saya mendalami geodesi dan lanjut ke S2 dengan fokus penelitian di aspek geodesi hukum laut. Untuk S3 saya lebih fokus lagi ke aspek geodesi hukum laut, terutama kaitannya dengan batas maritim.

Apakah sejak kecil Bapak bercita-cita sebagai pengajar?

Cita-cita jadi guru sudah ada sejak kecil tetapi itu menguat ketika kuliah.

 Sebenarnya, apa panggilan hidup Bapak?

Saya lahir di keluarga yang tidak terdidik secara formal. Ibu saya lulus SD, ayah saya bahkan tidak lulus SD. Saya melihat kehidupan mereka sangat sederhana. Saya meyakini, pendidikan adalah faktor penting yang berkontribusi dalam hal itu. Itu yang membuat saya semangat sekolah untuk pendidikan yang lebih baik. Hal itu saya rasakan kebenarannya setelah menamatkan pendidikan di UGM dan bisa
bekerja serta melihat dunia dengan cara yang lebih baik. Keyakinan saya akan makna pendidikan semakin menguat. Di sisi lain, saya merasa masih banyak orang seperti saya yang memerlukan pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup. Saya ingin menjadi bagian dari perjuangan orang-orang yang seperti itu. Itulah yang menjadi alasan mengapa saya akhirnya meyakini bahwa menjadi guru adalah sebuah pilihan yang baik. Dengan demikian saya bisa mendampingi anak-anak muda untuk meraih pendidikan dan juga menggapai kehidupan yang lebih baik. Persis seperti yang terjadi pada saya, jika dibandingkan dengan orang tua saya. Menjadi orang yang diberi kesempatan berbagi inspirasi dan menemani orang lain untuk meraih ilmu pengetahuan adalah panggilan hidup saya.

Jika boleh tahu, apa misi hidup Bapak?

Saya sebenarnya tidak memiliki pikiran spesifik dan besar tentang misi hidup. Saya menikmati ada di  antara orang-orang yang bersemangat meraih ilmu dan menebarkan hal-hal positif untuk lingkungannya. Jadi misi ini tidak terkait secara khusus dengan profesi tertentu atau posisi tertentu. Saya hanya ingin menjadi orang yang ada gunanya bagi lingkungan saya. Jika itu kemudian mengantarkan saya menjadi seorang profesional, atau pemimpin, atau pekerja di balik layar, saya akan menikmatinya.

Apa suka duka Bapak sebagai dosen?

Sukanya, setiap kali saya melihat wajah berbinar karena tercerahkan oleh apa yang saya sampaikan. Itu merupakan perasaan suka yang tidak bisa dinilai dengan materi. Dukanya adalah ketika terjadi sebaliknya. Jika saya tidak merasa bisa mencerahkan mahasiswa saya, di situ saya merasa sedih dan gagal. Suka yang lain: selalu bertemu orang baru dan berjiwa muda. Ini membuat hidup saya lebih menyenangkan dan positif. Selalu ada harapan baru dengan semangat baru yang disebarkan oleh mahasisswa muda.

Apa pengalaman paling mengesankan sejauh ini sebagai dosen?

Ketika ada mahasiswa datang pada saya dan menyampaikan terima kasih dengan tulus bahwa apa yang saya sampaikan itu membuka pikirannya.

Apa saja kesibukan Bapak selain Tri Dharma Perguruan Tinggi? Apakah Bapak berkecimpung di bidang lain?

Saya menjadi Kepala Kantor Urusan Internasional UGM. Saya bertugas untuk mengembangkan kerjasama dengan mitra di luar negeri, termasuk mendukung internasionalisasi di UGM. Dengan amanah tugas ini saya mendorong lebih banyak mahasiswa UGM yang bisa belajar di luar negeri dan lebih  banyak mahasiswa internasional yang belajar di UGM. Saya menjadi pembina organisasi Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM. Ini dalam rangka menemani adik-adik mahasiswa untuk  belajar berorganisasi dan memanfaatkan pengalaman itu untuk di masa depan.

Di luar sana ada asumsi yang mengatakan bahwa sangat dianjurkan bagi anak muda yang bermimpi menjadi dosen untuk langsung melanjutkan S2 dan S3 tanpa jeda setelah tamat S1. Bagaimana tanggapan Bapak?

Usia memag tidak menipu jika dikaitkan dengan kinerja akademik. Saya setuju, jika memang tujuannya adalah jadi dosen atau peneliti, S2 dan S3 sebaiknya disegerakan dan bila perlu langsung setelah S1. Meski demikian, kadang pengalaman juga membantu penyelesaian studi. Artinya orang yang sudah pernah bekerja dulu setelah S1 sebelum S2 bisa jadi akan punya cara pandang lebih baik soal penelitian dan kebijakan.

Dengan melihat usia Bapak sekarang ini, Anda telah mengantongi berbagai prestasi yang membanggakan. Sebenarnya berapa jam rata-rata Anda istirahat (tidur) setiap harinya?

Haha.. prestasi saya masih tergolong biasa untuk ukuran dosen UGM. Saya tidur empat sampai 5 jam rata-rata sehari.

Apa kegiatan Anda di waktu luang?

Berkebun di rumah, main sama keluarga, memelihara hewan, bersepeda, memasak, berenang.

Kalau boleh tahu, apa sebenarnya passion Bapak?

Menulis dan public speaking. Saya tidak pernah tertekan jika diminta melakukan dua hal ini.

Banyak yang mengatakan bahwa menjadi dosen itu tidak bisa kaya, tapi bisa dikatakan cukup. Bagaimana menurut Bapak?

Kaya adalah ketika penghasilan kita lebih dari pengeluaran kita sehingga bisa ditabung. Perasaan tenang/tercukupi secara finansial adalah definisi saya yang sesederhana tentang kaya. Dengan jadi dosen, jelas bisa dicapai perasaan dan situasi seperti itu. Jadi menurut saya, jadi dosen bisa kaya.

Menurut Bapak, apa saja permasalahan paling mendasar di dunia pendidikan tinggi Indonesia?

Ketiakmampuan sistem pendidikan dan pelakunya untuk mendorong kreativitas peserta didik. Penyeragaman tatacara, indikator, dan output bagi semua orang dengan kemampuan yang berbeda merupakan bentuk ketidakadilan.

Apa karakter yang harus dimiliki oleh seorang dosen? 

Suka berbagi dengan terbuka, memahami perbedaan generasi yang sedang dihadapinya sehingga bisa mengantisipasi perbedaan sikap.

Apa arti kesuksesan bagi Bapak sebagai seorang dosen?

Produktif menulis ilmiah, dikenal sebagai dosen yang menjadi inspirasi, tidak saja menebar informasi.

Apa arti kebahagiaan di mata Bapak sebagai seorang dosen?

Mengetahui bahwa mahasiswa/alumni yang pernah saya ajar, lebih terbuka pikirannya terhadap berbagai hal. Ketika apa yang saya ajarkan itu bisa menjadi pegangan dinamis saat dia melewati kehidupannya di dunia kerja.

Apa pesan-pesan Bapak bagi para mahasiswa yang ingin menjadi dosen?

Perhatikan syarat formal IP dll. Setelah itu, fokus pada tujuan pengembangan diri dan kemanfaatan bagi orang lain. Siapkan diri bahwa dosen memerlukan passion yang kuat dan tidak bisa jika hanya mengandalkan harapan akan mendapat reward materi.

 

Nah, bagaimana teman-teman? Menginspirasi sekali bukan? Bagi kamu yang berminat mengikuti jejak beliau sebagai dosen, jangan lupa pesan-pesan di atas ya.  Sukses selalu untuk anak muda Indonesia.

 

Categories:   Sosok

Comments