Kampusgw.com

Menu

Penabur Asa dari Tapal Batas

Win, namanya. Wanita Indonesia. Begitulah ia sering menerangkan namanya. Jadi tak perlu ada lagi yang mempertanyakan, kok seperti nama cowok? Lengkapnya adalah Win Sugiarti. Biasa dipanggil Win, Mbak Win, atau Yayu’ (dalam keluarga). Win terlahir sebagai anak ke-2 dari 5 bersaudara. Abangnya yang lebih tua 4 tahun di atasnya, 1 adik laki-laki lebih muda 3 tahun, 1 adik perempuan lebih muda 10 tahun, dan adik bungsunya laki-laki lebih muda 15 tahun dari Win.

Ayahnya seorang petani. Tepatnya seorang petani yang sempat berganti-ganti profesi mulai dari pertanian holtikultura dan kopi, perusahaan kayu, perkebunan semangka, ekspor-impor, bisnis tikar rotan, perdagangan ternak, bisnis pembukaan lahan, hingga kembali ke pertanian. Selalu kembali pada dunia pertanian karena begitu mendarah daging. Ibunya seorang Ibu rumah tangga yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk anak dan keluarga.

Sejak kecil Win hidup berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Sejak lahir hingga usia 5 tahun, ia hidup di Atu Lintang, sebuah tempat di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Lalu ia diboyong keluarga ke tanah leluhurnya di Indramayu, Jawa Barat selama satu bulan. Kemudian sekitar Juli 1997, keluarganya mengikuti program transmigrasi dan sejak itu resmilah ia menjadi penduduk Kalimantan Barat (Kalbar).

Di Kalbar sendiri Win tidak menetap di satu tempat. Beberapa kali ia berpindah kota, demikian juga sekolahnya. Saat duduk di SD kelas 1 sampai awal kelas 3, ia hidup di sebuah area transmigrasi bernama Pereges di Kecamatan Seluas (Kab. Bengkayang, dulu masuk Kab. Sambas). Kelas 3 ia selesaikan di SD Risau, dekat pintu perbatasan Indonesia-Malaysia Jagoi Babang. Kelas 4 ia pindah ke SD Sei Take. Tiga sekolah itu masih berada di satu kabupaten.

Pertengahan kelas 4 ia berpindah ke Rintau Permai, sebuah dusun di Kecamatan Sekayam yang dekat dengan Entikong, border gate resmi Indonesia-Malaysia. Di sini ia bersekolah di SD Negeri Bungkang hingga lulus tahun 2003. SMP dan SMA-nya ditempuh di kota kecamatan Sekayam, Balai Karangan.

Tahun Terberat Masa Remaja di Tapal Batas

Mengawali usia 17 tahun Win benar-benar memasuki masa-masa yang mengantarkannya pada perubahan drastis dari fase remaja ke dewasa muda. Merosotnya perekonomian keluarga yang berada di titik terbawah tepat saat beberapa bulan lagi ia akan menghadapi ujian akhir SMA, rupanya memberi beban tersendiri baginya. Dunianya yang saat itu sudah ia fokuskan pada sekolah dan rumah saja tak menjadi dunia yang tenang. Di rumah ia enggan berangkat sekolah, di sekolah ia enggan pulang ke rumah. Ia sendiri mungkin tak menyadari gejala-gejala ketertekanan itu.

Di sekolah ia malas bertemu dengan pegawai Tata Usaha (TU) yang kerap menagih tagihan-tagihan biaya ujian dan sebagainya. Sementara di rumah ia tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan kesulitan hidup yang harus dihadapinya bersama keluarga, selain mendengar kata-kata ayahnya “sudahlah, kamu fokus saja mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional (UN).”

Beasiswa SMA PSF yang diterimanya per semester sebanyak 360 ribu rupiah ditambah beasiswa olimpiade dan lainnya dalam sekejap ludes terbagi untuk mencicil buku dan membantu menyokong kuliah abang kesayangannya. Biaya-biaya kebutuhan dadakan seperti biaya ujian sudah jelas tak kebagian. Konsentrasi bukan hal yang mudah baginya saat itu. Namun ia melihat kerja keras orangtuanya yang sedemikian gigih rasanya sama sekali tak pantas dibalas dengan ketidakseriusan belajar.

Sebenarnya ia sejak dulu berkeyakinan akan melanjutkan pendidikan sampai kapan pun. Akan tetapi realita mulai membuatnya merasa cemas dengan kelanjutan pendidikannnya. Saat itu ia ikut mendaftar seleksi PMDK di Universitas terbesar dan terbaik di Kalimantan Barat, yaitu Universitas Tanjungpura. Ketika berbondong-bondong teman-temannya memilih FKIP sebagai primadona, Win justru memilih jurusan yang berbeda. Prodi Teknik Informatika di Fakultas Teknik, itulah yang Win pilih. Padahal guru-gurunya mengharapkan ia masuk ke FKIP juga, seperti sebagian besar teman-teman yang beralasan “kesejahteraan guru masa kini sudah menggiurkan.”

Saat itu Win tidaklah memperhitungkan apa isi perkuliahan di FT-TI nanti. Baginya, ketika Universitas Tanjungpura tak menyediakan Fakultas Psikologi, maka FT menjadi jurusan yang keren. Jurusan yang akan menghantarkannya menikmati dunia maya dengan segala benefit di dalamnya. Dalam benaknya saat itu, keterampilan di bidang Teknologi Informasi akan mengantarkannya untuk memiliki banyak uang. Sehingga begitu lulus sebagai ST (Sarjana Teknik), ia akan melanjutkan kuliahnya di jurus impiannya: Psikologi. Ia sudah membayangkan jalan yang lebih panjang untuk mencapai impiannya.

Beberapa waktu setelah UN berlalu, pengumuman pun tiba. Ia lulus dengan nilai rata-rata kurang beberapa poin dari 7, di peringkat 4. Ia tetap bersyukur. Tambah lagi di saat yang berdekatan, ia juga lulus sebagai salah satu dari dua murid SMA-nya di PMDK Universitas Tanjungpura tahun 2009 itu. Di tengah euforia teman-teman dan ucapan selamat yang mengalir, benaknya sudah mulai dipenuhi oleh berbagai dilema. Temannya yang sesama kandidat mahasiswa PMDK telah mengundurkan diri. Itu artinya tinggal Win lah satu-satunya murid yang akan mewakili SMA-nya di jalur PMDK untuk masuk ke Universitas Tanjungpura. Jika Win juga mengundurkan diri, maka sekolah akan mendapatkan “skors” atau tidak mendapat jatah PMDK selama beberapa tahun. Ini juga menjadi beban moral yang tidak ringan bagi seorang Win.

Kejatuhan ekonomi diikuti kejatuhan kondisi fisik sang tulang punggung keluarga membuatnya harus lebih realistis. “Barangkali orangtua masih punya sawah atau ladang, minta dijual saja,” saran seorang gurunya saat itu. “Ah, Pak, andai memang ada, tak perlu menunggu bingung seperti ini, pasti sudah orangtua saya lakukan.” Win hanya menjawab di dalam hati.

Setelah berbagai upaya dilakukan termasuk meminta penambahan tenggang waktu daftar ulang kepada pihak Universitas Tanjungpura. Tak membuahkan hasil, Win pun mencoba berdamai dengan kenyataan yang dirasanya pahit. Berkas lamaran beasiswa outreaching Universitas Tanjungpura, beasiswa ikatan Dinas Perindustrian, dan lainnya, tak memberikan solusi apapun. Entah karena memang para panitia menekankan jumlah nilai hasil UN sebagai bahan seleksi terpenting atau barangkali alasan yang tak ia mengerti, tak satupun beasiswa kuliah ia dapatkan. Alhamdulillah ya Allah, mungkin saya memang kehilangan kesempatan yang teman-teman bilang ‘idaman’, tapi saya tak kehilangan orang-orang yang mencintai saya, bisiknya saat itu. Mungkin kesempatan yang lebih baik akan segera kudapatkan, keyakinan dalam hatinya. Ia menegar-negarkan diri.

Namun, Win tetaplah manusia, yang ada kalanya tak selalu tegar sepanjang masa. Berada di lingkungan yang mengenal dirinya sejak lama ternyata membuatnya merasa gerah. Kemanapun kakinya melangkah dan ia bertemu dengan orang yang mengenalnya, ia selalu menerima pertanyaan: “loh win gak kuliah?”, “win kuliah dimana?”, dan sejenisnya. Tak terperikan rasanya ditanya seperti itu, perih. Tentu saja ia mengerti orang-orang itu tak bermaksud negatif, namun ia sendiri belum benar-benar menerima keadaan. Setiap kali seperti itu, saat ia tiba di rumah, ia menumpahkan emosinya lewat air mata dan tulisan di diari-nya.

Sejak itu godaan setan pun muncul, pikiran negatif. Ia mulai menganggap apa yang dihadapinya sebagai suatu kegagalan, menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Ia marah dan menyesalkan sana-sini, terutama orangtuanya. Andai orangtuanya saat jaya dulu mengasuransikan pendidikan, takkan begini jadinya. Win menjadi remaja bingung saat itu. Kerap berapi-api kata-kata pedas tercetus dari bibirnya, sampai ibunya meneteskan air mata. Lantas ia menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Dan semua itu berpengaruh pada fisiknya, dadanya kerap sesak dan sakit.

Titik Balik di Kebun Sawit

Sampai suatu hari, entah ilham apa yang Tuhan kirim padanya. Ia lelah dengan kondisinya, namun jiwanya kelelahan luar biasa. Menjelang bulan Ramadhan 2009, Win menyatakan ingin bekerja saja. Ia ingin menabung untuk biaya kuliah, mendapatkan suasana baru, tidak bertemu dengan orang yang bertanya-tanya saja.

Meski dengan berat hati, akhirnya orangtuanya mengizinkan ia bekerja. Untuk pertama kalinya ia tinggal terpisah dari orang tuanya. Ia tinggal di asrama karyawan di dekat kantor perkebunan yang berada di dekat hamparan hutan kelapa sawit. Dan ia harus pulang seminggu sekali sebagaimana yang dilakukan para rekan kerjanya. Sebagai Kerani (sekretaris) divisi, ia bertanggung jawab untuk menangani laporan-laporan harian, catatan keuangan, logistik, dan sebagainya. Semuanya dikerjakan secara manual dan membutuhkan waktu lebih panjang dari jam kerja.

Dua bulan berhasil ia lalui dengan berbagai pengalaman seru yang penuh hikmah. Sampai suatu saat, di tengah malam saat ia masih menyelesaikan beberapa pekerjaannya, ia bermuhasabah diri. Ia menyadari bahwa jalan ini terlalu jauh untuk menggapai cita-citanya. Ia merasa harus berganti haluan. Win pun mengundurkan diri.

“Terima kasih saya sudah diberi kesempatan belajar di sini… saya minta doanya saja, Pak. Saya akan melanjutkan pendidikan…”, katanya menjawab segala tawaran baru dari atasannya yang memintanya tetap bekerja di situ.

Win pun kembali ke kehangatan keluarga. Kali ini hatinya sudah mampu menerima kenyataan dan memaafkan dirinya. Ia lebih siap menata ulang dan melanjutkan impian-impiannya. Mungkin dua bulan bergaul dengan buruh, sesama karyawan, hingga manajjer justru menyadarkan Win bahwa banyak hal-hal yang melipatgandakan rasa syukurnya. Sungguh kenangan tak terlupakan melewati hari-hari bersama teman-teman yang tulus dan penuh kekeluargaan di sana, namun ia sudah memutuskan untuk ‘move on.’

Setelah beberapa hari di rumah, tanpa sengaja ia mengenal seorang tetangga, yang dulunya tampak tertutup. Sebut saja namanya Miss D. Ia seorang wanita paruh baya, dengan latar belakang yang luar biasa. Saat kuliah ia mendapat beasiswa Supersemar ke Australia, lantas sukses sebagai pengajar bahasa Inggris profesional, memiliki bisnis pertanian yang besar di desanya, hingga berbagai usaha di Jakarta.

Namun, itu masa lalu bagi Miss D. Pemilu legislatif tahun 2004, menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia kehilangan sebagian besar kekayaannya, ditinggal suami yang menikah dengan wanita lain, dan tinggal jauh dari anaknya, tapi Miss D masih bertahan hidup sendiri mengobati luka-luka hatinya. Perkenalan dengan Miss D seperti sebuah teguran Allah yang membangunkan Win dari tidurnya, orang yang diuji lebih besar saja masih baik-baik saja. Dari Miss D, Win meminjam sebuah buku, Berpikir dan Berjiwa Besar. Buku itu seperti nutrisi jiwa baginya.

Mulailah Win mencari jalan untuk melanjutkan cita-citanya. Ia mencari berbagai informasi beasiswa, termasuk berlangganan milis-milis yang bertebaran di dunia maya. Kali ini fokusnya adalah beasiswa atau pembiayaan apapun dari lembaga swasta yang menurutnya lebih objektif dan tidak mendewakan angka hasil UN sebagai bahan seleksi. Rental warnet di kota kecilnya saat itu masih sangat mahal, beruntung ia sering dimintai tolong oleh adik kelasnya untuk mengajari mereka mengenal dunia maya atau membuat kliping, sehingga ia berkesempatan berinternet gratis. Kadang ayahnya memberinya uang saku, yang pada akhirnya habis di warnet juga. Sampai suatu hari ia membuka email di Nokia 6300 miliknya. Sebuah email dari milis beasiswa tentang informasi beasiswa Paramadina Fellowship 2010 telah dibuka.

Dengan semangat menggebu, ia siapkan berbagai persyaratan yang dibutuhkan. Mulai dari dokumen-dokumen, hingga esai-esai dan rekomendasi dari berbagai pihak. Ia tahu, Paramadina tidaklah se-”wah” kampus-kampus tua seperti UI, UGM, ITB, atau IPB yang dulu disebut-sebut ayahnya sebagai kampus terbaik negeri ini. Tapi dia tau kampus ini punya jurusan Psikologi yang ia impikan, dan saat ini lebih ‘terbuka’ untuknya. Benarkah? Lihat saja nanti. Ini untuk pertama kalinya Win akan melamar beasiswa yang membutuhkan esai-esai sebagai salah satu persyaratannya. Ia browsing kesana-kemari.

Sampai ia menemukan blog seorang penerima Paramadina Fellowship yang menceritakan perjalannya meraih beasiswa ini (sebut saja Mas Blogger). Ia pun segera menghubungi Mas Blogger. Ia buang rasa segan. Ia tahu walaupun Mas Blogger itu tampak sangat cerdas dan berwibawa, tapi memiliki kesamaan latar belakang keluarga elit (ekonomi sulit), pasti tidak akan pelit berbagi informasi, inspirasi, dan motivasi. Win mengenalkan diri dan menceritakan sedikit tentang dirinya, serta latar belakang yang membuatnya menghubungi Mas Blogger. Dari Mas Blogger, Win juga mendapatkan saran untuk mendaftar Beasiswa Sampoerna School of Education (SSE) 2010. Sebenarnya sebelum menghubungi Mas Blogger, Win sudah sempat mendapatkan informasi tersebut sekilas, tapi tak diacuhkannya karena itu bukan jurusan yang ia cari.

Tapi mempertimbangkan perlunya back up plan sekitar 2 minggu menjelang penutupan pendaftaran SSE ditutup, Win tergerak untuk mendaftar. Ia siapkan segalanya dengan cepat. Entah kenapa justru pahit manis menjemput beasiswa justru baru sangat terasa di fase ini. Jika tahun sebelumnya beberapa persyaratan beasiswa ia urus dengan pendampingan sang Ayah, namun kali ini semua ia urus sendiri. Perjuangan sendiri ini sepertinya memberikan efek yang positif untuk peningkatan kepercayaan dirinya. Mungkin karena Win harus menghadapi banyak tantangan yang menguji kesungguhannya.

Diantara persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Win, surat rekomendasi (guru dan kepala sekolah) dan esai adalah bagian yang paling menantang baginya. Ia sadar soal prestasi akademik mungkin di luar sana masih jauh lebih banyak yang lebih baik darinya. Tapi dua hal tadi akan menjadi kunci ajaib baginya.

Semalam suntuk ia memikirkan siapa guru yang akan ia mintai rekomendasi. Di SMA, sebagian besar guru dekat dengannya. “Pilihlah guru yang paling mengetahui tentang dirimu”, perintah yang tertulis di formulir itu. Akhirnya ia memilih Bu Arie, mantan Pembina OSIS saat kepengurusannya sekaligus salah satu guru favoritnya. Dan yang kedua adalah kepala sekolah, Pak Ayub. Beliau mungkin tak mengenal dekat Win secara pribadi. Tapi beliau pasti mengetahui deretan penyumbang prestasi sekolahnya dan murid yang untuk pertama kali mengantarkan piala Olimpiade Sains Nasional Biologi untuk bertengger diantara piala lain di gedung tempat ia bekerja. Selain Bu Arie dan Pak Ayub, Win juga menemui Pak Joko, yang saat itu menjabat sebagai Pembina OSIS untuk meminta surat keterangan pengalaman organisasi. Di kelas X Win memang menjabat ketua sebuah divisi di OSIS dan menjadi pengurus PMR perdana di SMA-nya, dan di kelas XI Win dipercaya menjad ketua MPK.

Bu Arie dan Pak Ayub hanya meminta waktu dua hari untuk menuliskan rekomendasi tersebut. Saat itu Win tak mengerti alasannya. Ketika Win kembali ke sekolah untuk mengambil surat itu, Bu Arie berkata, “Win, Ibu sengaja tidak menyegelnya seperti yang diminta oleh panitia pada formulir itu. Ibu ingin Win baca dulu, jika ada yang kurang, Win harus bilang sama Ibu. Ibu ingin memberikan keterangan yang sebenar-benarnya tentang potensi terbaik Win.”

Tak jauh berbeda Pak Ayub pun meminta Win langsung membaca dan mengatakan jika ada keterangan yang kurang. Namun Win hanya mengucapkan terima kasih dan memohon doa mereka agar rekomendasi mereka akan sangat membantunya. Ia katakan bahwa ia yakin apa yang sudah ditulis mereka Insyaallah sudah lebih dari cukup.

Setibanya di rumah, Win pun tergoda membaca rekomendasi tersebut. Air matanya mengalir spontan membaca rekomendasi dari Bu Arie yang begitu mengharubirukan hatinya. Ia seperti membaca potret dirinya, perasaannya, pemikirannya, dan impiannya dari hasil jepretan lensa hati seorang guru.

Seminggu menjelang tenggat penutupan pendaftaran, akhirnya Win meyakinkan diri bahwa semuanya selesai. Ia sudah menemui si Ibu tetangga untuk mengecek esainya, memastikan bahwa bahasa Inggrisnya masih dimengerti oleh orang lain. Maklum modal bahasa Inggris pas-pasan yang ditopang kamus sejak jaman SMP.

Malam Sabtu saat itu. Win bingung. Tiga hari sebelumnya, ayahnya secara mendadak berkata, “kamu yakin jadi mendaftar Sampoerna School of Education?” Win mencoba menebak-nebak apa maksud ayahnya. “Itu kan nanti harus ada tes di Jakarta, apa tidak lebih baik biaya untuk tes digunakan untuk mendaftar ke Universias Tanjungpura saja? Kan belum tentu juga benar-benar diterima, nanti malah ke sana nggak jadi, ke Universitas Tanjungpura gak jadi, udah buang-buang duit aja.” (padahal belum punya uang).

Win tidak percaya ayahnya bisa berkata seperti itu, ia tidak mengerti. Ayahnya, orang nomor satu yang selama ini mendorongnya agar optimis untuk mencoba banyak hal, termasuk beasiswa ini. Ia berusaha meyakinkan ayahnya. Dan saat itu ayahnya hanya menjawab pendek, “terserah”. Win enggan memikirkan tanggapan ayahnya itu. Ia terus bergerak menyiapkan semuanya. Bahkan ia reka sendiri surat rekomendasi orangtua, dan ia hanya memohon ayahnya mau menuliskan dan menandatangani.

Alhasil hari Sabtu itu, tepat 7 hari sebelum tenggat waktu, Win nekat akan mengirimkan berkas formulir dan perlengkapan itu ke Jakarta. Ia tidak mempunyai uang. Ia tak mungkin meminta kepada ayahnya. Iia sedang enggan berbicara dengan beliau dan pula ia tak tahu apakah beliau memiliki uang atau tidak. Meminta kepada ibu, ia tak tega merusak anggaran belanja dapur yang sudah pas-pasan. Akhirnya ia menemui ibu sahabatnya yang sudah seperti ibu sendiri, meminjam uang 20 ribu (tapi si ibu tidak mau menerima ketika uang dikembalikan). Saat itu kantor pos hanya buka setengah hari, dan ia datang tepat di saat kantor pos hampir menutup pintu dengan sempurna. Alhamdulillah akhirnya terkirim juga. Ikhtiar sudah, saatnya menderas do’a dan mempersiapkan pencarian alternatif lainnya.

Suatu hari si ibu tetangga mengenalkannya pada teman beliau, seorang jurnalis media nasional yang tengah mencari informasi sebuah kasus di perbatasan. Win pun sangat antusias berbincang dengan jurnalis ini. Maklum, saat kecil dulu Win memang pernah juga bercita-cita menjadi jurnalis. Sampai hari ini Win lupa siapa nama “Om jurnalis” ini. Yang tak Ia lupakan adalah satu pesan dari beliau. “Jangan takut untuk mencoba suatu kesempatan. Kamu mungkin saja tidak berhasil di situ tetapi paling tidak di situ kamu akan menambah teman dan jaringan yang mungkin akan memberitahu jalan lain yang lebih tepat untuk kamu.”

Tujuh hari Win lewati dengan olahraga intensif pagi sore. Ia menyiapkan diri juga untuk peluang mendaftar menjadi aparat negara yang biasanya diseleksi melalui kekuatan akademik dan fisik. Sebenarnya fisik Win tak terlalu kuat untuk olahraga yang terlalu membuat otot-ototnya pegal. Tetapi semangatnya membuatnya mampu melakukan itu. Di hari ketujuh, Win menelepon pihak panitia untuk memastikan apakah berkasnya sudah diterima. Jawaban dari pihak panitia membuatnya was-was. Ternyata berkasnya baru diterima hari kedelapan. Win pun menunggu hasil seleksi itu dengan melanjutkan aktivitasnya sehari-hari, olahraga, mengantar jemput adik, membantu orang tua dan mencari berbagai informasi beasiswa.

Sesuai jadwal, 15 April 2010 adalah hari dimana hasil seleksi dokumen akan diumumkan via situs web Sampoerna School of Education dan email. Jam 9 Win sudah melenggang ke warnet sekolah. Dibukanya email dan situs tersebut, tak ada satupun pengumuman baru. Mulailah pikirannya mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan, diantaranya adalah mungkin belum rezeki dan email hanya dikirim ke pendaftar yang lulu. “mungkin diundur, lihat lagi besok,” kata ibunya ketika mendengar laporan dari Win.

Malam itu, Win bangun di tengah malam. Entah berapa jam ia terlarut dalam curhatnya kepada Tuhan hingga tertidur sampai menjelang fajar. Efek kurang tidur itu siangnya suhu badan Win panas. Saat makan siang bersama orangtuanya, ia menyelesaikan makan lebih cepat dan minum obat. Saat itulah ayahnya bertanya mengapa ia tak melihat pengumuman lagi. Berdesir hatinya, tetapi ia memilih sholat Dzuhur terlebih dahulu.

Setelah Win mengecek email di browser ponselnya, tak ada email yang ia tunggu. Lantas ia membuka situs web Sampoerna School of Education. Taraa… sebuah pengumuman peserta lolos seleksi dokumen angkatan 2010-1011 gelombang 1. Jantungnya berdetak tidak karuan. Bagian pertama adalah nama-nama jurusan Matematika. Ah, nama-nama orang jenius, pikir Win saat itu. Ia pun mulai menyusuri deretan nama-nama calon mahasiswa jurusan bahasa Inggris yang juga terbagi menjadi 3 bagian sesuai lokasi tes yang terdekat dengan domisili masing-masing. Tiga lokasi tersebuat adalah Jakarta, Palembang, dan Jogjakarta.

Win terus menyusuri dengan teliti daftar nama di kelompok tes Jakarta, namun tak menemukan namanya, jantungya pun berdegup kencang. Ia meneruskan penyusurannya pada dua kelompok berikutnya. Deretan kelompok Yogyakarta hampir berakhir, dan Win hampir histeris mengeja namanya di beberapa baris sebelum terakhir. Air matanya spontan mengalir deras. Alhamdulillah. Kedua orang tuanya yang baru selesai makan, mereka tampak terkejut dengan reaksi Win. Begitu Win mengatakan bahwa ia lolos seleksi dokumen, ayah ibunya langsung memeluknya spontan. Dengan suara bergetar ayahnya berkata, “Ayah janji, ayah akan berusaha membantu kamu sekuat tenaga.”

Kau tahu kawan, mengapa sampai sedemikian rupanya reaksi Win? Padahal baru lolos seleksi dokumen, masih ada seleksi tahap selanjutnya dan berbagai tantangan di depan sana. Bagi Win bisa lolos dokumen adalah sesuatu yang sangat besar. Bagaimana tidak, hampir semua persyaratan beasiswa/pembiayaan pendidikan mensyaratkan nilai ujian yang tinggi atau minimal 7, sementara nilainya di bawah itu. Ia meyakini bahwa Sampoerna School of Education (SSE) adalah kampus pendidikan yang benar-benar edukatif dan menghargai potensi anak manusia lebih dari sekedar angka hasil ujian belaka.

Namun beberapa saat kemudian Win dan kedua orang tuanya bingung memikirkan biaya untuk menuju Yogyakarta yang tak sedikit. “Ah, siapa tau ada bantuan transportasi dan akomodasi dari pihak Sampoerna Foundation,” kata Win semangat. Win pun segera menelepon pihak panitia dan menanyakan hal itu. Sayangnya, tak seperti yang dia harapkan, tak ada bantuan biaya transportasi maupun akomodasi.

Malamnya Win berpikir keras menyusun rencana-rencananya untuk bisa ke Yogykarta. Soal uang biarlah ayahnya berusaha dulu, rezeki takkan kemana. Ia mengabari guru-gurunya dan meminta doa mereka. Ia juga mulai memikirkan perjalanan ke kota Pontianak dan urusan menginap di Pontianak ia masih bisa mengandalkan abangnya yang saat itu masih kuliah di Universitas Tanjungpura. Namun ia mulai bingung ketika memikirkan dimana ia akan menginap di Yogyakarta nanti. Ia tak memiliki satu kenalan pun di kota yang pernah diimpikannya itu. Dini hari setelah bersujud kepada-Nya, tiba-tiba sebuah pemikiran melintas. Ia ingat beberapa tahun lalu saat Yogyakarta dilanda gempa, harian Pontianak Post pernah menuliskan tentang asrama mahasiswa Pemda Kalbar di kota tersebut.

Keesokan harinya ia mencari informasi tentang Asrama Mahasiswa Kalbar di internet, ia menemukan facebook Asrama tersebut. Asrama tersebut terdiri dari Aspura Rahadi Oesman (putra) dan Aspuri Dara Djuanti (putri) yang berlokasi di tempat yang sama. Win pun segera mengirimkan pesan ke Facebook pengurus Aspuri yang bernama Mbak Nunung. Isinya, ia ingin menumpang selama tes di Yogyakarta. Sehari kemudian pesan tersebut mendapat balasan, ia boleh menginap di sana. Alhamdulillah.

Kini ia tinggal memikirkan bagaimana ia bisa kesana. Akhirnya dua hari menjelang tes, ayahnya mendapatkan uang untuk membelikan tiket pesawat, “kamu berangkat dulu dengan uang seadanya ya, nanti beberapa hari setelah kamu di sana ayah akan mengirim bekalmu,” begitu kata ayahnya saat itu. Win mengerti mengapa ayahnya sempat meragukan niatnya mendaftar ke perguruan tinggi tersebut. Ayahnya takut ia kecewa jika ayah tak mampu memberikan apa yang ia butuhkan. Ayahnya tak sanggup melihat anaknya dirundung kesedihan. “Ayah takut mengecewakanmu lagi”, bisik ayahnya.

Win juga mengabari ayah angkatnya untuk berpamitan. Dan ketika ayah angkatnya mengetahui bekalnya sangat minim, beliau bersedia meminjami uang, “sekarang yang terpenting kamu bisa berangkat, berusahalah sungguh-sungguh, Insyaallah semuanya bisa kamu lalui dengan baik, jangan kecewakan kami” ucap beliau. “Pakailah dulu, silakan kembalikan jika kamu sudah mampu dan tak membutuhkannya, tapi jangan pernah sok mampu,”pesan beliau lagi ketika Win menanyakan tentang pinjaman itu.

Menjemput “Kunci” SSE di Kota Ki Hadjar Dewantara

Akhirnya siang itu juga Win mengemas beberapa potong pakaiannya dan beberapa buah buku ke dalam tas jinjing. Ia juga membawa dokumen-dokumen yang diperlukannya di tas bahu. Ketika ia bersiap, ternyata ayahnya membelikannya sate kesukaan win, dan mereka berenam makan bersama sebelum Win pergi. Ibunya hampir menangis ketika memeluknya. Namun Win masih sempat menghibur ibunya dan meminta beliau jangan menangis. Adik-adiknya tertawa-tawa seperti biasanya, maklum mereka belum pernah benar-benar terpisah dengan Win. Mereka tak membayangkan bahwa perpisahan kali ini akan lama.

Dengan diantar ayahnya, Win menuju terminal bis antar kota dimana bis yang akan ia tumpangi menuju Pontianak berada. Di jalan ia mengirimkan SMS pamitan kepada guru-gurunya, baik guru sekolah maupun “guru kehidupan.” Tiba-tiba sebuah SMS masuk dari salah satu guru kesayangannya, “Win tunggu beberapa menit lagi di terminal, ada Yono akan menemui Win.” Saat Win dan ayahnya menunggu bis akan berangkat, seorang adik kelasnya datang dan menyerahkan sebuah amplop. Alhamdulillah bekal tambahan dari ibu guru itu. Akhirnya dengan rasa yang sulit didefinisikan, Win mencium takzim tangan ayahnya dan menaiki bis yang disopiri oleh seorang kenalan ayah. Dengan mata berkaca-kaca ayahnya melepaskan keberangkatannya.

Win mengerti ayahnya sangat berat melepaskannya pergi sendirian ke tempat yang belum dikenalnya tanpa ada seorangpun yang dikenalnya di sana. Belum lagi Win adalah anak perempuan, yang harus dijaga dengan segenap jiwa raga. Namun ia berusaha meyakinkan ayahnya, ia akan baik-baik saja, ada Allah yang selalu menjaga bahkan di saat ayahnya lengah. Win bersyukur selama ini ia memilih bergaul hanya di ranah yang ia yakini baik untuk dirinya, walaupun beberapa teman menggolongkannya sebagai anak ‘gak gaul’ karena tak pernah tertarik nongkrong-nongkrong melewatkan waktu tanpa tujuan yang jelas. Hal itu tentu menguatkan kepercayaan orangtua kepadanya.

Sekitar pukul 10 malam Win tiba di Bundaran Universitas Tanjungpura Pontianak. Beberapa saat kemudian ia dijemput abangnya dan malam itu ia menginap di asrama abangnya. Keesokan harinya, tiga sahabat Win berkumpul menemuinya. Mereka menemani Win membeli pakaian yang diperlukan untuk tes, dan minum bersama. Kemudian mereka juga mengantarkan Win ke Bandara Supadio. Perpisahan pun terjadi. Dua sahabat perempuannya tersedu melepasnya pergi, Win memeluk mereka.

Ketika memasuki lobi check in, Win mulai memasuki dunia asing. Ia memang anak perantau, namun ini untuk pertama kalinya ia naik pesawat, dan pertama kalinya pula merantau ke luar pulau sendirian. Sementara empat orang di belakangnya masih terus mengawasi. Dengan senjata “bertanyalah jika bingung” Win pun berhasil mencapai ruang tunggu di lantai 2. Ternyata pesawat yang akan ia tumpangi delay selama beberapa jam. Win baru ingat kalau sejak siang sebelumnya belum makan. Entah karena terkuras berbagai emosi atau apa, ia merasa sangat lapar. Saat tengah memikirkan perutnya, tiba-tiba ia ingat untuk memeriksa ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan singkat. Sahabat-sahabat dan abangnya masih di anjungan bandara, menunggunya benar-benar naik ke pesawat.

Sore itu akhirnya Win pun memulai perjalanannya menuju Yogyakarta. Ketika harus transit di Jakarta dalam waktu yang sangat singkat, Win sempat sedikit bingung. Beruntung seorang Bapak yang sebelumnya sempat berbincang-bincang membantunya. Kebetulan si bapak ini sama-sama menuju Kota Gudeg itu. Masalah transit, aman. “Melihat kamu, bapak jadi ingat anak bapak, nduk. Ini bapak pulang ke Klaten untuk mengurusi pendaftaran kuliahnya. Nanti di Jogja kan nyampenya malam, biar bapak bantu naik mobilnya supaya ndak nyasar,” Maha Baik Allah mengirimkan bantuan di setiap kebingungan Win.

Di pesawat dari Jakarta menuju Yogyakata, kursi di deretan Win hanya diisi oleh Win dan seorang wanita berjilbab yang duduk di dekat jendela. Kursi yang memisahkan Win dan wanita cantik itu kosong. Sebenarnya Win tak betah berdiam-diam saja. Setelah beberapakali bertukar senyum, Win pun mulai berbasa-basi menyapa si mbak di sebelahnya itu. Mereka berkenalan dan bertukar cerita.

Ternyata Kak Suri, wanita yang sangat anggun dan ramah itu, sama-sama dari Pontianak. Ia bekerja sebagai staf di Pemda Kalbar. Mendengar cerita Win, dia tampak begitu peduli. Ia memberikan nasihat-nasihat yang menguatkan semangat Win. Ia memberikan nomor ponsel dan alamatnya, serta meminta Win menghubungi bila ada kesulitan atau kembali ke Pontianak. Tak hanya itu, ia juga menawarkan diri untuk mengantar Win ke Aspuri. Kak Suri memang cukup mengenal Yogyakarta karena pernah berkuliah di sana. Setibanya di Bandara Adisucipto, orangtua dan kakak-adik Kak Suri sudah menjemput.

Setelah diajak makan malam, Win pun lantas diantar ke asrama. “Kami titip adik kami ya,” kata Kak Suri kepada pengurus asrama sebelum pergi. Perlakuan hangat dari Kak Suri sekeluarga saat itu membuat Win merasa seperti seorang anak yang diantar keluarganya untuk mondok. Mungkin mereka perpanjangan kasih Allah sebagai jawaban untuk doa Ibu, keluarga, dan orang-orang baik di Kalbar sana.

Di Aspuri Win sekamar dengan seorang mahasiswi asal Sambas yang baik dan perhatian. Menyambut pagi pertamanya di Yogyakarta, Win sudah bersiap sejak Subuh. Ia sudah siap menuju Hotel Saphir, tempat tes yang sempat dilewatinya semalam. Ia bersiap-siap jika harus tersesat menuju kesana. Ketika ia menanyakan rute-rute menuju Saphir, tiba-tiba Kak Lili (seorang pengurus asrama) menyediakan diri untuk mengantarkan. Kak Lili ini juga mengatakan bahwa Win pulangnya akan dijemput oleh pengurus lain. Win sangat berterima kasih, ada saja orang yang menawarkan diri untuk direpotkan.

Tiba di Hotel Saphir, Win segera menuju ruangan tes. Setelah bertanya-tanya kepada petugas hotel yang super ramah. Di lift Win bertemu dengan seorang teman sesama calon peserta tes, Ema. Teman kedua dikenalnya saat mengantri registrasi ulang, Shinta. Kedua temannya ini kemudian menjadi teman terbaiknya. Di saat-saat seperti itu memang unsur Sanguinis Win lebih dominan, sehingga ia langsung berkenalan dengan banyak peserta tes yang banyak berdatangan dari bagian daerah Jawa Tengah hingga bagian Timur Indonesia serta Kalimantan. Berbeda dengan setelah itu tak banyak nama teman-teman barunya yang ia ingat dengan rapi.

Hari pertama ternyata bukan tes, tetapi sosialisasi tentang kampus dan hal-hal terkait serta briefing tes. Mulai dari prosedur dan tahapan-tahapan masuk ke SSE, sampai ke sistem pembelajaran di kampus pun dijelaskan secara gamblang oleh pihak kampus dan Putera Sampoerna Foundation. Saat itulah Win sudah tak sabar ingin belajar pada dosen seperti Bu Rosa yang begitu mempesona saat menyampaikan kata-katanya di depan. Hari itu menjadi sangat istimewa, Win bersama dengan DSH dan EJ saat itu berjanji jika mereka sama-sama berhasil lolos ke SSE, mereka akan tinggal satu kost.

Tes diadakan pada hari kedua. Dimulai dari tes bahasa Inggris yang berbentuk seperti tes TOEFL, lantas dilanjutkan dengan tes Matematika bagi yang mengambil jurusan Matematika. Hari itu Win dan teman-teman berfoto-foto di seluruh area hotel yang cantik (sepok!). Mereka seakan tak peduli tatapan dari orang-orang, yang penting ada momen seru yang terabadikan. Siapa yang tahu apakah nanti kita akan bertemu lagi atau tidak. Mereka akan kembali ke daerah masing-masing, sementara Win akan menetap di Jogja menunggu pengumuman hasil seleksi tahap ke-2 yang akan diumumkan 2 minggu lagi.

Dua minggu Win habiskan dengan mengunjungi beberapa tempat yang dulu hanya ia ketahui dari berita atau cerita saja, termasuk kampus yang mahsyur, Universitas Gadjah Mada. Beruntung sekali teman-teman di Aspuri telah berbaik hati menemaninya kesana-kemari. Memasuki minggu kedua, Win baru mengalami shock iklim. Ia demam panas dan batuk berhari-hari. Ia sempat sedih tapi tidak lama, karena setelah itu ia diajak oleh kakak pengurusnya untuk mengikuti kegiatan kongres mahasiswa. Kongres tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air yang studi di Yogyakarta. Lumayan untuk pemanasan sebelum benar-benar menjadi mahasiswa.

Menjelang pengumuman tahap ke-2, Win menerima pengumuman dari Paramadina, ia tak lolos. Pupus sudah harapannya belajar di sana. Belum sempat win bersikap dengan pengumuman dari Paramadina, pengumuman dari SSE pun seakan datang membawa angin surga. Ia berhak melanjutkan ke seleksi tahap akhir yaitu Psikotes, aktivitas sosial (Microteaching), dan Wawancara.

Setiap hari ia browsing informasi-informasi mengenai tes-tes itu. Entah kebetulan atau apa lagi, dua hari menjelang tes, ada sekelompok mahasiswa S2 Psikologi Universitas Gadjah Mada yang melakukan riset di Aspuri. Kesempatan ini Win manfaatkan dengan berkenalan dan menggali berbagai tips untuk psikotes. Sungguh bertemu mereka adalah salah satu pengalaman mengesankan dan penuh inspirasi bagi seorang Win yang ‘ngebet’ dengan Psikologi.

Tes tahap akhir pun dimulai dengan psikotes di Jogja Fish Market. Win kembali bertemu dengan teman-teman yang beruntung bisa lulus ke tahap ini. Sebelum tes, kakak-kakak dari Putera Sampoerna Foundation mengingatkan peserta untuk sarapan terlebih dahulu, agar lebih siap. Ternyata psikotes benar-benar sebuah tes yang menguras energi dan emosi. Ketenangan, kesabaran, dan kegigihan benar-benar dibutuhkan di sini. Win sampai berulang kali meneguk air mineral untuk menyegarkan tubuhnya yang agak lemas karena kurang istirahat pada malam sebelumnya.

Di hari kedua, tes yang harus dilalui adalah microteaching per kelompok. Win mendapat tempat tes di SD Tumbuh, sebuah SD inklusif di Yogyakarta. Win yang tergabung dalam kelompok 9 bersama Ubed, Vany, dan Vinda harus mengajar Bahasa Inggris Listening dan speaking tentang Occupation dengan nila toleransi kepada anak kelas 3. Proses microteaching dinilai oleh dosen dan psikolog. Win menyadari ia tipe orang yang lebih mudah mendekati orang lain secara pribadi dibandingkan mendekati banyak orang. Hal ini terlihat di kelas ketika banyak melakukan pendekatan secara pribadi kepada siswa-siswa. Hal ini juga diakui oleh psikolog penilai.

Tes terakhir pun tiba, yaitu wawancara. Tes ini kembali diadakan di Jogja Fish Market. Saat menunggu giliran namanya dipanggil, Win bercengkerama dengan teman-teman seperjuangannya itu. Banyak diantara mereka yang tampak tegang, dan Win berusaha menghibur temannya agar tidak tegang. Beruntung Win sendiri yang memiliki kepribadian plegmatis punya cadangan ketenangan yang cukup banyak.

Ketika giliran namanya dipanggil, sempat berdesir hatinya. Dengan membaca “bismillah” ia melangkah pasti menuju ruangan di mana mulutnya akan memperjuangkan nasib masa depannya. Sejak awal Win menaruh harapan terbesar pada tahap ini. Ia sadar nilainya secara akademik tak sempurna merepresentasikan potensi dirinya. Tibalah saatnya mempraktekkan segenap pengalaman dan pengetahuannya tentang ‘menjual (potensi) diri.’

Dihirupnya nafas panjang sebelum mengetuk pintu. Begitu masuk Win langsung menyapa 3 pewawancaranya. Ia langsung menyalami ketiganya. Ada Pak SP (yang kemudian menjadi dosennya), seorang staf Putera Sampoerna Foundation, dan seorang Psikolog yang juga menilai Win di Microteaching. Win berusaha tersenyum walaupun rasa grogi sedikit mengusik hatinya.

Wawancara diadakan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan pertama adalah “please, tell us about yourself, about your family, . . .and so forth”. Sejujurnya Win tak terlalu mengerti dengan pertanyaan itu. Tetapi beruntung ia sudah membaca banyak tips tentang wawancara. Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan dan terbata-bata Win pun memperkenalkan dirinya, namun ketika ia ingin menceritakan pekerjaan orang tuanya, win kebingungan. Di dalam hati ia mulai panik. “you may continue it in Bahasa…”, kata Pak SP, yang disetujui oleh ibu psikolog dan staf PSF. Maka lancarlah Win melanjutkan ceritanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka bertiga.

Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan umumnya adalah penggalian dan pembuktian dari apa yang ia tulis di esai dan dokumen pendaftaran. Selain itu pertayaan-pertanyaan seputar penggalian seberapa kuat motivasinya untuk belajar di SSE serta keselarasan visi misi masa depan pribadi Win dengan visi misi dari pihak SSE. Win yakin dalam menjawab pertanyaan wawancara, cara terbaik menjawab adalah jawablah dengan diplomatis dan sejujur-jujurnya.

Salah satu pertanyaan yang paling dia ingat begitu menjebak adalah, “andai kamu boleh memilih salah 1, mana yang kamu pilih, beasiswa dari PSF untuk S1 Psikologi di UGM atau S1 pendidikan Bahasa Inggris di SSE?”. Pertanyaan itu muncul karena sebelumnya Win sempat mengungkapkan bahwa sejak lama ia mengidamkan kuliah di jurusan Psikologi, ilmu yang juga sangat ia butuhkan untuk bisa berkarya di dunia pendidikan.

Hatinya membisikkan, jawablah dengan jujur apapun resikonya. Win pun menjawab dengan mantap, “jika ada dua kesempatan demikian saya akan memilih pilihan yang paling sesuai dengan sesuai hati saya: S1 Psikologi UGM”. Ketiga pewawancara hanya saling pandang dan tertawa kecil. Wawancara berlangsung sekitar 20 menit, lebih cepat dari waktu yang dialokasikan. Kata orang, wawancara yang singkat bisa jadi menunjukan bahwa pewawancara tak tertarilk dengan kita. Tapi Win berpikir positif saja, mungkin pewawancara sudah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, mengingat cara Win bercerita yang rinci.

Setelah tes berakhir, Win dan teman-teman pejuang SSE 2010 berjalan-jalan di Yogyakarta sebelum berpisah kembali ke kampung halaman masing-masing menunggu pengumuman final dari pihak panitia seleksi.

Menanti Jawaban di Tanah Leluhur

Win sendiri memutuskan untuk mengunjungi keluarga besar orang tuanya di Indramayu yang sudah belasan tahun tak bertemu. Di sanalah Win menunggu pengumuman yang menjadi petunjuk di mana ia akan belajar selama empat tahun ke depan, dan memikirkan alternatifnya. Sebagai antisipasi, ia pun memutuskan untuk mendaftarkan diri untuk mengikuti SNMPTN.

Sampai 15 Juni 2010, Win berangkat ke Bandung untuk tes SNMPTN sedangkan pada 16-17 Juni hasil seleksi SSE telah dijadwalkan. Malamnya Win berniat tidur lebih awal agar besok dapat mengikuti tes dengan keadaan segar. Jika ditanya sebesar apa motivasinya mengikuti SNMPTN? Namanya juga rencana cadangan, tentu tak sebesar saat ia mengikuti seleksi SSE. Setelah sholat Isya, tiba-tiba Win mendapat SMS dari Niken, seorang teman sesama kandidat SSE. “Pengumuman udah keluar, cek web…”

Dengan debar tak karuan, dan bibir yang tak henti menggetarkan basmalah, Win segera membuka situs web SSE daro ponselnya. Alhamdulillah, spontan Win bersujud syukur dengan air mata haru yang menderas begitu menyaksikan namanya tercantum sebagai calon mahasiswa baru utama. Ia segera mengabari orang tuanya, keluarga di Indramayu, guru-guru, dan para sahabatnya. Mereka harus tahu bahwa dukungan moril dan materil mereka tak sia-sia. Lantas ia saling bertukar kabar dengan teman-teman sesama pejuang SSE 2010 Yogyakarta. Malam itu rencana tidur awal pun terlupakan, Win terlarut dalam tangis bahagia di hadapan Yang Maha Cinta. Untungnya di rumah dinas sahabat orangtua ayahnya ini, Win mendapat 1 kamar sendiri, sehingga tak ada orang yang mengetahui tingkah emosionalnya malam itu.

Rentang waktu dari pengumuman hingga masa perkuliahan diisinya dengan silaturahmi, mempersiapkan dokumen yang diperlukan, dan sebulan sebelum berangkat ke Jakarta ia magang di sekolah tempat bibinya mengajar. Sebulan magang membantu sekolah bibinya seperti sebuah pemanasan untuk memasuki kehidupan sebagai mahasiswa yang siap hidup siang malam di depan komputer.

Jakarta, Aku Datang!

Akhir Agustus 2010, akhirnya Win pun berangkat ke Jakarta menyandang status baru: mahasiswa. Keadaan yang sempat ia idamkan sejak lama: belajar di sekolah yang sistemnya berbeda dengan kebanyakan institusi pendidikan di Indonesia, tidak membebankan biaya pada orang tua, dan bergaul dengan teman dari berbagai belahan tanah air.

Tak terasa hingga cerita ini ditulis, menginjak semester 7, hampir 3,5 tahun sudah Win belajar di SSE yang telah menjadi Fakultas Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI). Ia juga menjadi bagian dari SFSC (Sampoerna Foundation Scholars Club) sebagai penerima dana student financing Koperasi Siswa Bangsa – PSF. Student financing merupakan program pembiayaan sejenis pinjaman biaya pendidikan lunak seperti yang banyak tersedia di Singapura, Amerika, dan Eropa. Dari dana PSF ini, Win dapat membayar biaya kuliah dan sebagian biaya hidupnya selama 4 tahun. Setelah lulus dan berpenghasilan sendiri nantinya Win akan mengembalikan sebagian biaya itu sebagai kontribusi balik untuk melanjutkan program bantuan terhadap anak-anak Indonesia lainnya.

Win sangat berharap berbagai pengalaman belajar istimewa dari dosen-dosen muda dan berkualitas dengan fasilitas yang mumpuni, yang ia rasakan juga bisa dinikmati oleh lebih banyak anak Indonesia. Bagi Win pendidikan sangat penting sebagai upaya menjadikan diri untuk layak menolong orang lain. Seperti kata R.A. kartini “Dengan menolong diri sendiri, kita bisa menolong orang lain dengan lebih sempurna”.

Kini di tengah kesibukannya menyelesaikan tahun terakhir di USBI, Win juga belajar membangun bisnis, aktif di organisasi lingkungan nasional, dan mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan. Semua itu ia anggap penting untuk meningkatkan kualitas diri dan mewujudkan salah satu impian yang terus dikejarnya, yaitu membantu anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan berkualitas dan meraih cita-cita mereka untuk menambah jumlah manusia berbudi luhur penuh karya di negeri ini. Win ingin generasi setelah dia tak harus berkutat dengan kesulitan-kesulitan yang sama dengan generasinya dalam mendapatkan pendidikan yang benar-benar edukatif. Begitu banyak tantangan di masa depan yang perlu dihadapi agar NKRI tak lenyap dan tenggelam karena kurangnya pendidikan bagi calon penerus bangsa.

Menurut Win, pendidikan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga yang sudah ada, tetapi tanggung jawab bagi setiap manusia cerdas manapun yang menyadari makna pentingnya pendidikan. Seperti slogan hidupnya “Cerdas saja tidak cukup kalau tidak mencerdaskan.”

Win juga berharap teman-teman yang tengah berjuang meraih pendidikan tetap semangat menghadapi tantangan apa pun. Kita berhak dan wajib mengusahakan impian yang kita yakini, sekalipun orang lain menganggapnya kecil bahkan tak mungkin. Biarkan impian itu tetap hidup sebesar apapun halangan dan tantangan yang kita hadapi, karena janji Allah dalam salah satu surat cinta-Nya “Jika Allah menolongmu, maka tak adalah yang dapat mengalahkanmu”.

Categories:   Sosok

Comments

  • Posted: Jul 1, 2017 10:55

    Panji

    terharu bacanya Win... salam dari teman RINTAU :)
  • Posted: Jul 3, 2017 06:41

    admin

    Hehe. Terima kasih kak Panji. Bantu share ya kak Panji. Biar viral hehe.

error: Content is protected !!