Kampusgw.com

Menu

 

Yuk Kenali Kang Ojie Di Sini! Syafrudin Irfan: Menjadi Pengajar Soft Skill, Coach & Konselor adalah Panggilan Hidup Saya

Sahabat Kampusgw.com

Nama lengkap saya Syafrudin Irfan.  Tapi justru sampai saat ini nama tersebut kurang dikenal karena teman-teman hingga klien memanggil saya Ojie. Ya karena saya orang Sunda, jadi di panggi Kang Ojie. Dulu cita-cita saya pernah ingin menjadi dokter, pernah jadi anggota TNI. Tapi jalan hidup berbeda.

Panggilan hidup saya sebenarnya tidaklah sesuatu besar. Saya hanya ingin mandiri dan tidak ingin menyusahkan orang lain. Namun sejalan dengan usia dan kondisi, saat ini saya berusaha bisa berguna bagi masyarakat secara luas. Jadi saya pilih aktifitas saya menjadi fasilitator/instruktur atau bahkan kata orang sebagai motivator.

Kesibukan saya tentu terkait dengan profesi saya sebagai psikolog juga sebagai fasilitator/instruktur atau kata orang sebagai motivator. Namun  secara umum orang-orang mengenal saya sebagai pengajar soft skill.

Saat saya baru lulus kuliah, saya memang langsung ambil program Psikolog. Namun saya tidak terpikir untuk menjadi pengajar soft skill. Dulu saya sempat bekerja sebagai karyawan salah sebuah perusahaan distribusi di Bandung, yaitu menjadi psikolog di bidang industri dan organisasi. Namun praktek-praktek klinis-pun tetap saya jalani. Saya pun pernah juga mencoba berwirausaha  berjualan ayam dan ikan bakar dll.

Namun sekitar usia 30 tahunan – menurut pendapat saya terlambat – saya menemukan dan memahami apa yang ingin dan saya lakukan secara spesifik. Saya ternyata tidak cukup “tabah” menjadi karyawan rajin untuk hadir tiap hari pada jam yang sama dan dengan rutinitas yang menjebak saya. Bahkan saya berpikir, jika rutinitas ini saya lakukan inilah “cara bunuh diri” pelan-pelan.

Saya menemukan arti bahwa profesi yang saya tekuni memiliki falsafah yang mendalam.  Sehingga sejak saat itu, saya terus mencari dan mencoba mendapatkan momen di mana saya bisa secara eksis berbagi terutama dari sisi keilmuan yang saya miliki.

Apa suka duka menjalani profesi saat ini? Rasanya suka semua karena ini sebagai pilihan. Jadi, saya menjalaninya dengan perasaan bahagia dan berdampak pada dorongan yang kuat untuk melakukan secara terus-menerus. Bahkan saya sengaja berpikir jika ke luar daerah dan berbagai pulau bakal bertemu dengan teman baru dan jalan-jalan “dibayarin” hehehe.

Pengalaman paling menarik adalah banyak orang-orang yang usianya di atas saya berusaha untuk mencium tangan saya setelah saya mengajar. Entah apa motifnya, namun saya merusaha mengarahkan untuk hanya berjabatan tangan. Bukan karena tidak menghormati beliau-beliau. Hal ini saya lakukan karena saya belum pantas dicium tangan oleh orang-orang yang saya hormati.

Saya hanyalah seorang Ojie yang belajar untuk terus membenahi diri dan sedang belajar untuk berbagi walau baru sedikit. Pengalaman kecil lain, tiba-tiba setelah selesai mengajar ada seorang yang maju menghampiri saya dan lansung mencopot jam tangannya dan diberikan pada saya. Beliau mengatakan sangat terinspirasi dengan program yang beliau ikuti. Dan jam tangannya adalah jam tangan baru dipakai saat hari tersebut dengan masih ada tempelan plastik (merek).

Siapa yang paling mempengaruhi perjalanan karir saya? Semua pihak tentu sangat mempengaruhi saya. Namun tentu keluargalah dan sahabat-sahabat yang memberikan warna yang sangat berbeda dari kehidupan dulu sampai saat ini. Tentunya peran ibu dan bapak sangat dominan di dalamnya. Terutama support dan doa mereka yang sangat tidak ternilai dan selalu terus dinanti. Peran istri dan anak adalah sebagai modal energi bagi saya. Rasanya energi ini tak akan pernah habis.

Aktifitas saya saat ini selain pengajar soft skill, juga masih aktif melakukan coaching dan juga konseling di berbagai organisasi terutama dunia indutri. Saat ini saya berperan aktif memberikan training di Sekjen MPR-DPR, PNS, BUMN, Swasta dan tentu dunia pendidikan. Namun saya tetap aktif dalam bidang-bidang psikologi lainnya seperti seleksi-rekrutmen, asesmen karyawan dan lainnya.

Saya bukan orang yang berprestasi. Cuma berniat dan berusaha untuk mencapai prestasi saja. Tentu ada upaya untuk mencapainya sehingga ada konsekwensi tenaga, pikiran dan waktu yang berbeda jika kita memiliki tujuan tertentu, termasuk jumlah waktu tidur. Gampangnya ya, jika ingin mendapat lebih, ya usahanya pun perlu lebih, simple saja.

Passion saya tentu sama dengan pilihan profesi sebagai psikolog dan berkembang menjadi pengajar soft skill. Saya dinyatakan secara administratif menjadi psikolog sejak tahun 2001. Namun saya merasa lebih aktif dalam profesi sebagai psikolog dan trainer sejak 10 tahun berjalan.

Menjadi (kata orang) trainer, psikolog yang baik saya pikir adalah apa yang ia katakan semua sudah ia lakukan. Hal ini tentu bukan barang baru bahkan jauh dari kata berlebihan. Karena profesi yang kita miliki adalah pilihan hidup, amanah hidup.

Saya pikir, sejak tahun 90an sampai saat ini training menjadi sangat berkembang karena pola fikir masyarakat semakin berkembang dan kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi terutama di dunia industri. Training yang berkembang tentu tidak hanya hard skill namun berkembang soft skill-nya. Peran persaingan dunia usaha, kemajuan informasi-teknologi dan mulai meningkatnya pemahaman masyarakat tentang kebutuhan meningkatkan kinerja organisasi yang tentu sangat dipengaruhi oleh kinerja pribadi (karyawan).

Karena dasarnya adalah kebutuhan peningkatan kompetensi, sehingga training menjadi suatu “barang dagangan” yang laku di pasaran. Mungkin kalau saya menilai training ini sudah menjadi sebuah atau kategori industri. Karena jika diukur kebutuhan masyarakat secara umum begitu tinggi, bisa dikatan semua orang butuh training. Jika diukur berdasarkan nilai begitu tinggi nilai transaksinya, sehingga saat ini banyak pihak yang berlomba-lomba untuk terjun dan menekuninya. Tentu dalam perkembangan training ini akan terus meningkat seiringnya waktu. Cuma masalahnya adalah bagaimana meramu dan menyajikan sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat.

Sifat seorang trainer tentu perlu berbeda dengan yang lain karena tuntutan profesinya tersebut. Bahkan saya pikir, berbagai karakter perlu ia miliki. Namun Trainer perlu memiliki wawasan yang luas, memiliki kepekaan sosial dan empati tinggi karena ia berhubungan dengan manusia (terutama trainer soft skill), memiliki jiwa kepemimpinan dan komunikasi yang kuat karena ia perlu meyakinkan orang lain.  Namun sifat-sifat seperti mudah dalam bekerjasama, mengembangkan network dan rasa ingin tahu tentang sesuatu yang besar dan kebutuhan untuk terus belajar yang tinggi. Kerendahan hati juga menjadi sifat yang perlu dimiliki, karena ini adalah modal dasar bagi profesi ini.

Kesuksesan bagi saya adalah keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan tujuan sendiri tiap orang berbeda-beda dalam tujuan dan falsafah hidupnya yang sangat relatif. Adapun kebahagiaan bagi saya adalah suatu perasaan positif yang menjadi anugrah dari yang maha kuasa.

Bagi saya saat ini, menekuni profesi sebagai psikolog dan aktif dalam bidang training tentu menjadi pilihan dan jalur hidup. Sehingga menjadi bagian dari tujuan hidup saya.

Apa yang masih saya perjuangkan ke depannya? Kita ditakdirkan.  Sehingga tidak akan pernah mengetahui kehidupan masa yang akan dating meskipun hanya 1 detik ke depan. Tentu ini adalah kuasa Maha Pencipta Allah SWT. Namun kita pun diwajibkan untuk berbaik sangka terhadap-Nya. Jadi bagi saya cara pandang secara positif ini sebagai bagian dari mengikuti ajaran agama. Sehingga saya berkeyakinan bahwa masa yang akan datang saya bisa lebih memberikan kontribusi yang positif tentang pengabdian terhadap masyarakat dan mampu lebih ikhlas utuk bersabar melayani masyarakat dan semoga itu yang mendekatkan saya pada kesuksesan.

Pengalaman adalah salah satu guru yang paling penting dan bijaksana. Masa lalu adalah pijakan masa saat ini dan tentu agar mampu menata dan merencanakan masa yang akan datang. Bagi saya masa lalu benar-benar sudah lewat dan kita tidak bisa juga tentu tidak boleh berandai-andai. Dari pengalamanlah jika ada hal yang dirasa banyak salah ketika masa lalu, banyak yang kurang di masa lalu ya saat sekarang dan ke depanlah kita perbaiki.

Bagi saya suatu profesi adalah amanah, titipan dari yang Allah SWT. Terlepas profesi apapun itu (tentu profesi yang bersifat positif dan tidak keluar dari norma agama, sosial dan norma negara) bahkan profesi tersebut menjadi pilihan ataupun karena “kecelakaan”. Tentu yang terpenting adalah pahami saja dan miliki falsafah atau makna dari suatu pekerjaan/profesi. Jika itu sudah dipahami, saya yakin akan menampilkan sesuatu yang sangat kuat yang muncul dalam diri dan akan tercermin dalam sikap kehidupan kita. Namun jika makna dan falsafah profesi belum kita miliki secara mendalam, tentu kita kurang maksimal dalam menjalankannya atau bisa dikatakan “kalaupun bagus hanya dipermukaan”.

Namun untuk memahami makna dari profesi kita, tentu ada proses waktu dan pengalaman. Jadi  kembangkanlah wawasan lebih luas, dan fokus pada tujuan yang ingin kita capai. Karena profesi kita adalah kendaraan untuk mencapai tujuan dan tentu kita perlu tetap open mind.

Categories:   Sosok

Comments

error: Content is protected !!