Kampusgw.com

Menu

Tes Sidik Jari, Kenapa Tidak?

Halo teman-teman semuanya. Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik ya.

O  ya, sudah tahukah kalian dengan kekuatan, minat, bakat, jenis kepribadian atau potensi dirimu?

Jika sudah, selamat ya! Bagi yang belum, jangan kecil hati deh hehe.

Memetakan potensi diri memang tidaklah mudah. Pasalnya membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Baik dari biaya, tenaga, dan mental.

Nah ada kabar baik loh. Belakangan ada metode pengenalan jati diri berbasis sidik jari. Sebuah metode yang tentu saja dapat melengkapi pendekatan psikologi konvensional.

Di Indonesia ada beberapa penyedia layanan tes kekuatan diri berbasis sidik jari. Di antaranya adalah STIFIN dan P2F.

STIFIN sendiri ditemukan oleh Mas Farid Poniman. Lewat mesin sidik jari yang dikembangkan bersama rekannya, kekuatan diri kita dapat diukur dari belahan otak dominan yang sering digunakan dan pendorongnya. Menurut mereka, ada sembilan jenis kepribadian manusia:

  1. Sensing Introvert
  2. Sensing Extrovert
  3. Thinking Introvert
  4. Thinking Extrovert
  5. Intuiting Introvert
  6. Intuiting Extrovert
  7. Feeling Introvert
  8. Feeling Extrovert
  9. Instinct

PRiADI Psychological Fingerprints (P2F) atau Tes Sidik Jari PRiADI dikembangkan oleh Kang Dedi Priadi – Urang Bandung jebolan Universitas Arizona, Amerika Serikat.  Itu merupakan sebuah produk riset multidisiplin untuk mengenali, menganalisis, dan memberikan panduan tentang kecenderungan potensi bawaan dan karakter lahir seseorang berdasarkan perpaduan pola sidik jarinya. Walaupun bukan merupakan tes formal psikologi, Tes Sidik Jari PRiADI mengadaptasi kerangka formal evaluasi sebuah tes psikologi.

Baik STIFIN maupun Tes Sidik Jari PRiADI memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka “beda gaya” walaupun sama-sama menggunakan teknologi pemindai sidik jari.  Mulai dari pengemasan laporan, akurasi penilaian, konsep pemetaan, hingga komprehensitas analisis. Secara kasar, berikut adalah perbandingan ringkasan laporan assessment dari keduanya.

STIFIN Tes Sidik Jari PRiADI
ü Intisari kecerdasan diri

ü Sistem operasi belahan otak yang dominan

ü Kepribadian tetap yang dapat diriset secara psikometrik

ü Empat kata kunci sifat

ü Cara belajar

ü Keutamaan sekolah menuju karir di industri yang sesuai dengan prioritas #1 dan #2

ü Sisi positif yang perlu dibina dan perlu diwaspadai dari diri sendiri

ü Penjelasan hasil kecerdasan diri

 

ü  Belahan otak yang dominan

ü  Cara belajar

ü  Potensi kepemimpinan

ü  Tingkat temperamen

ü  Sifat alami bersosial

ü  Tingkat kesibukan beraktivitas

ü  Followership

ü  Arah kerja

ü  Motivasi berprestasi

ü  Gaya bersosial

ü  Minat vokasional

ü  Data statistik pembanding potensi diri terhadap population sampling secara keseluruhan

ü  Prediksi resiko masalah kepribadian

ü  Prediksi sukses akademik dan profesional

 

Jika dilihat dari tabel ringkasan di atas, sekilas memang tidak signifikan perbedaannya. Namun, jika melihat laporan asli dari keduanya bak bumi dan langit. STIFIN “hanya” memberikan laporan sebanyak satu lembar bolak-balik. Sebaliknya, Tes Sidik Jari PRiADI memanjakan konsumen dengan 26 lembar halamannya. Tidak apple-to-apple perbandingannya? Menurut Kampusgw.com, sebaliknya.

Namun, harus catat juga ya. Tidak ada yang sempurna memang. STIFIN faktanya juga memiliki beberapa keunggulan. Misalnya saja, kita bisa mendapatkan hasil assessment hanya dalam hitungan menit. Sementara sang kompetitor membutuhkan sedikit waktu lebih lama lantaran customized. Di luar aspek kepuasan konsumen, STIFIN pun lebih unggul dari sisi branding dan marketing. Timnya solid, tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Dan berafiliasi dengan salah satu perusahaan pelatihan kenamaan. Associate trainer and consultant yang dicetaknya juga tidak kalah banyak. Singkat kata, ia telah memiliki sistem yang lumayan – setidaknya untuk ukuran Indonesia.

Sementara itu, P2F masih mengandalkan sosok sang penemu sehingga menimbulkan kendala bagi orang-orang yang menginginkan hasil assessment secara instan. Kendati demikian, belakangan ini ia bekerjasama dengan salah satu rekanan yang memungkinkan klien untuk berkonsultasi melalui konferensi video. Melihat usianya yang jauh lebih muda daripada STIFIN, agresifitas P2F patut diacungi jempol. Perusahaan yang awalnya hanya “mangkal” di Bandung itu, telah memiliki kantor di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Selain itu, pelan-pelan ia juga merekrut para Associate tidak hanya di Indonesia tapi juga merambah di negara-negara ASEAN. Bukan tidak mungkin, dengan latar belakang teknik ditambah dengan jaringan Kang Dedi di ITB dan Negeri Paman Sam – ia akan jauh meninggalkan STIFIN.

Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menilai mana yang lebih keren di antara STIFIN dan Tes Sidik Jari PRiADI. STIFIN bisa saja sekarang “di atas angin” karena persebaran jaringannya yang begitu massif. Namun, jika tidak segera memperbaiki kualitas laporannya, bukan tidak mungkin calon konsumen baru akan sulit didapatkan. Sementara itu, P2F berpeluang merajai layanan mesin kecerdasan berbasis sidik jari di tanah air jika mampu memperbaiki teknologi, kepuasan pelanggan, dan strategi pemasaran yang tepat.

Terlepas dari apapun brand yang Anda pakai, baik STIFIN maupun Tes Sidik Jari PRiADI merupakan dua produk anak bangsa yang patut diapresiasi. Kampus Kampusgw.com menganjurkan teman-teman dimanapun berada, untuk mencoba layanan yang mereka berikan. Semakin cepat Anda mencoba, semakin cepat pula “karpet merah” menanti Anda.

 

Sumber gambar: pixers.it

Categories:   Tips

Comments